Ayahku memenangkan tender untuk proyek pembangunan di kabupaten tempat asalku yang saat itu baru mulai terjamah oleh peradaban modern. Ia membangun jalan, jembatan dan monumen-monumen. Kami sekeluarga memiliki rumah dan kendaraan bermotor, kehidupan yang sederhana mungkin saat ini, tapi bagi kami ini adalah episode terbaik dalam hidup kami. Ayah tidak memikirkan kehidupan mewah, ia hanya bahagia jika melihat istri dan anaknya tersenyum. Di proyek yang besar ini ayah memutarkan modal orang yang berada, dan mempekerjakan warga sekitarnya yang menganggur. Sehingga semua pihak merasa diuntungkan. Tak heran namanya semakin populer, asalnya seorang pemain musik dalam sebuah orkes kecil menjadi kontraktor. Semua orang mengelu-elukan dia. Sampai sepupu-sepupuku jika ditanya sudah besar mau jadi apa? Jawabannya adalah mau jadi Pak Elan. Begitu populernya nama ayahku.
Hidup tak selalu lurus. Banyak belokan dan sering kali turun naik. Banyak orang yang bangga terhadap keberadaan ayahku tapi sayangnya, ada juga orang yang menganggapnya saingan. Ayahku orang yang supel, sehingga ia banyak memiliki teman dari berbagai kalangan. Tapi dalam keadaan seperti ini kadang susah dibedakan mana teman dan mana lawan. Semakin tinggi tingkatannya, ternyata persaingan semakin tidak sehat. Ayahku mulai merasaka itu, tetapi ia mencoba mempertahankan semua yang telah ia bangun dari awal. Ia selalu percaya, semakin tinggi suatu pohon maka angin yang menerpanya akan semakin besar pula. Walau begitu ia yakin bahwa tuhan tidak akan memberikan cobaan yang tidak akan sanggup kita pikul.
Tak ada gading yang tak retak. Sepandai-pandai tupai melompat satu saat jatuh juga. Dua peribahasa itu memang berlaku. Beberapa proyek besar gagal karena tidak sesuai permintaan. Pemberi tender menuntut ganti rugi, bukan untung yang didapat malah ayah harus mengganti semua kerugian itu. Para pekerja tak mendapat gaji penuh, para penanam modal lemas bak gambler yang kalah judi. Bumi ini terasa berguncang, dan kiamat di depan mata.
--oo-o-oo--
Pagi yang cerah di desa yang bersahaja. Ayam jantan berkukuruyuk, burung-burung berkicau, bersiul-siul menikmati indahnya pagi ini. Para lelaki petani menenteng cangkul berjalan menyusuri galengan-galengan sawah, diikuti istrinya yang mengais bakul yang berisi bekal dan air serta anaknya yang belum sekolah berlari-lari kecil sambil membawa layang-layang di punggungnya. Sementara anak sekolah saling menjemput lalu berderet dengan baju merah putih yang seragam berjalan sambil bersenda gurau. Sementara aparat desa yang pergi ke kantornya sibuk membunyikan klakson sepedanya, sambil berteriak pada anak-anak sekolah yang kadang berlarian menyeberangi jalan sehingga hampir tertabrak oleh sepeda kumbangnya. Sementara beberapa guru berbaris dengan sepedanya sambil berbincang. Semuanya seperti sediakala.
Sementara di sebuah rumah tidak jauh dari sekolah dasar, tampak sepi. Tidak ada sang istri yang biasanya menyiram bunga sambil menyapa orang yang lalu lalang, tidak ada suaminya yang ramah yang biasa mencuci motor di depan rumah. Tidak ada dua anaknya yang berteriak-teriak karena mereka sangat ingin memakai seragam merah putih seperti siswa-siswa sekolah dasar itu. Kini yang terlihat hanya halaman yang kering, tanaman yang mulai layu, dan papan besar yang bertulis “rumah ini disita”. Lalu kemana penghuni rumah itu?
Di tempat lainnya, di jalan besar yang lurus baru saja selesai dibangun, terbentang mulus puluhan kilometer dipagari pepohonan. Dengan kanan kiri hutan yang sunyi. Di jalan ini sebuah mobil dapat berkendaraan sesuka hatinya, dengan kecepatan berapa pun sesuai kemampuannya, karena jalan ini masih sangat sepi. Musim kemarau membuat suhu udara cepat naik, pagi-pagi sudah cukup panas, fatamorgana meliuk-liuk di atas aspal. di antara fatamorgana itu terlihat tiga manusia sedang berjalan gontai. Oh tidak sepertinya empat orang. Tiga orang berjalan terdiri dari dua orang dewasa dan satu anak kecil kemudian satu lagi berada di punggung yang lain. Mereka berjalan tak tentu arah. Panas matahari tak terasa lagi karena dunia ini sudah bagaikan neraka bagi mereka. Mereka tak tahu lagi apa yang harus mereka perbuat untuk hidup. Tak ada tangis, tak ada senyum apa lagi tawa dan canda seperti biasa. Kedua anaknya pun seolah setuju, tak berkomentar, tak rewel seperti biasa, tidak berlari, tidak melompat, mereka hanya memandangi wajah dingin orang tua mereka. Seakan tidak ada kehidupan lagi. Seakan tidak ada masa depan lagi. Seakan tidak ada harapan lagi. Selamat tinggal keinginan untuk menggunakan seragam merah putih, selamat tinggal kehidupan yang sempurna. Mereka adalah empat orang penghuni rumah itu. Ayah, ibu, aku dan adikku.
Seluruh harta benda milik keluarga telah menjadi penebus hutang. Itu mungkin bukan masalah besar bagi ayahku. Tapi kenyataan bahwa seluruh harta itu tidak sanggup menutupi segala kerugian dan membayar upah para pekerja yang sudah susah payah membangun proyek-proyek itu yang membuat ayahku koleng . Hutang bertumpuk. Dan ia merasa bertanggung jawab atas semua ini, ia merasa ini semua adalah kesalahannya. Ia mencoba lagi dan gagal, lalu ia mencoba lagi kemudian gagal lagi. Hutang semakin bertumpuk. Ayah pun menyerah, asa pun hilang sudah.
--oo-o-oo--
Awalnya ayah yang berdiri di tengah jalan.
“Mau ngapain bang?” Teriak ibu di pinggir jalan.
“Ri, abang sudah tidak sanggup lagi.” Ayahku menunduk.
“Maafkan abang. Abang membawa kamu sejauh ini. Maafkan abang. Kalau seandainya kamu tidak menikah dengan abang, pasti lain ceritanya. Maafkan abang ri.”
“Abang ngomong apa? Sini bang, jangan di tengah jalan, nanti ketabrak mobil.” Teriak ibuku. Aku tertegun melihat drama ini.
“Ri, sudahlah. Kamu jalan duluan. Abang titip anak-anak kita.” Ayahku berbicara datar.
Tiba-tiba ibuku menyambar tanganku dan memegangnya kuat-kuat. Lalu ia berjalan ke tepat ayahku berdiri di tengah jalan raya itu. Ayah dan ibu cuma saling berpandangan. Entah apa yang mereka katakana melalui pandangan mata itu. Semenjak menikah dengan ayahku, ibuku selalu menemani ayahku, dalam susah dan senang. Walau pun pertengkaran acap kali terjadi itu karena kemanjaan ibu yang selalu ingin diperhatikan lebih oleh ayah. Entah apa arti dari tatapan mata mereka. Pada akhirnya kami berempat duduk di tengah jalan.
Lama kami duduk di tengah jalan besar yang lurus dan mulus itu. Berharap sebuah truk besar lewat dan melindas kami berempat. Supaya cerita pun berakhir. Tak ada kepedihan, tak ada penyesalan, tak ada lagi masalah. Tak ada yang meninggalkan, tak ada yang ditinggalkan. Tak ada siapa yang menangisi siapa. Akhir yang sempurna. Begitukah akhir cerita yang sempurna.
--oo-o-oo--
Berjam-jam tak ada satu pun kendaraan yang lewat. Matahari sudah tepat di atas ubun-ubun tapi jalan besar ini hanya sepi. Tiba-tiba saja keheningan itu pecah karena satu suara. Suara itu berasal dari perutku.
“Mamah, Ari lapar.” dengan polosnya.
“Dari pagi Ari belum makan.”
“Kita mau kemana sih? Padahal Ari kemarin mau diajak Pak Toto main ke sekolah. Ari kan mau sekolah. Nanti kalo Ari sudah sekolah, nanti Ari jadi insinyur, nanti Rara, Ari yang sekolahkan. Bapak nggak usah kerja lagi.” Aku berbicara panjang lebar. Kedua orang tuaku menatapku dengan mata berkaca-kaca. Mereka tak menyadari anak sekecilku bahkan bisa memahami keadaan yang sedang terjadi. Lalu tiba-tiba ayah memelukku.
“Maafkan Bapak, Ari. Maafkan Bapak.” Menciumiku seolah aku anaknya yang hilang dan baru saja ditemukan. Lalu air mata mulai mengalir ke pipinya dan menempel di wajahku. Ayah lalu memelukku erat sambil terus mengulang-ulang kata maaf. Sedangkan ibu melihat kami berdua sambil terisak.
Sementara mobil jeep hitam melaju dengan kecepatan penuh. Jalan sepi dan mulus menggoda siapa saja pengendara kendaraan bermotor untuk melaju kencang dan makin kencang. Karena jalannya lurus maka seharusnya kami dapat melihat mobil tersebut pada jarak ratusan meter. Tapi karena kami sedang terharu, hanya adikku yang menyadarinya. Adikku belum bisa bicara, ia baru bisa bergumam dan mengetahui beberapa kata saja. Adikku berteriak kegirangan sambil bergumam..
“mamama…mmbbiimm…mbbiimm..mbbimm..”
Tiba-tiba terdengar suara deritan rem mobil memecah suasana haru.
“ciiiiittttttttt”…
Rupanya pengendara mobil itu sudah menyadari keberadaan kami puluhan meter dari tempat kami berada dan langsung merem mobilnya sedemikian rupa. Sehingga tampak jejak roda mobil di atas jalan yang mulus itu. Tapi rupanya rem yang berderit itu tak sanggup menghentikan mobil jeep besar itu. Karena momentum mobil ini sangat besar sehingga sulit dihentikan. Pengendara mobil memutuskan membanting setir ke kiri tak ayal lagi “Brraaakkk!!” jeep itu menabrak pohon di pinggir jalan.
--oo-o-oo--
Tak banyak yang bisa ku tulis kali ini.. Tak apalah.. bagi kawan yang membaca harap berikan masukan jika berkenan.. wassalam..
Hidup tak selalu lurus. Banyak belokan dan sering kali turun naik. Banyak orang yang bangga terhadap keberadaan ayahku tapi sayangnya, ada juga orang yang menganggapnya saingan. Ayahku orang yang supel, sehingga ia banyak memiliki teman dari berbagai kalangan. Tapi dalam keadaan seperti ini kadang susah dibedakan mana teman dan mana lawan. Semakin tinggi tingkatannya, ternyata persaingan semakin tidak sehat. Ayahku mulai merasaka itu, tetapi ia mencoba mempertahankan semua yang telah ia bangun dari awal. Ia selalu percaya, semakin tinggi suatu pohon maka angin yang menerpanya akan semakin besar pula. Walau begitu ia yakin bahwa tuhan tidak akan memberikan cobaan yang tidak akan sanggup kita pikul.
Tak ada gading yang tak retak. Sepandai-pandai tupai melompat satu saat jatuh juga. Dua peribahasa itu memang berlaku. Beberapa proyek besar gagal karena tidak sesuai permintaan. Pemberi tender menuntut ganti rugi, bukan untung yang didapat malah ayah harus mengganti semua kerugian itu. Para pekerja tak mendapat gaji penuh, para penanam modal lemas bak gambler yang kalah judi. Bumi ini terasa berguncang, dan kiamat di depan mata.
--oo-o-oo--
Pagi yang cerah di desa yang bersahaja. Ayam jantan berkukuruyuk, burung-burung berkicau, bersiul-siul menikmati indahnya pagi ini. Para lelaki petani menenteng cangkul berjalan menyusuri galengan-galengan sawah, diikuti istrinya yang mengais bakul yang berisi bekal dan air serta anaknya yang belum sekolah berlari-lari kecil sambil membawa layang-layang di punggungnya. Sementara anak sekolah saling menjemput lalu berderet dengan baju merah putih yang seragam berjalan sambil bersenda gurau. Sementara aparat desa yang pergi ke kantornya sibuk membunyikan klakson sepedanya, sambil berteriak pada anak-anak sekolah yang kadang berlarian menyeberangi jalan sehingga hampir tertabrak oleh sepeda kumbangnya. Sementara beberapa guru berbaris dengan sepedanya sambil berbincang. Semuanya seperti sediakala.
Sementara di sebuah rumah tidak jauh dari sekolah dasar, tampak sepi. Tidak ada sang istri yang biasanya menyiram bunga sambil menyapa orang yang lalu lalang, tidak ada suaminya yang ramah yang biasa mencuci motor di depan rumah. Tidak ada dua anaknya yang berteriak-teriak karena mereka sangat ingin memakai seragam merah putih seperti siswa-siswa sekolah dasar itu. Kini yang terlihat hanya halaman yang kering, tanaman yang mulai layu, dan papan besar yang bertulis “rumah ini disita”. Lalu kemana penghuni rumah itu?
Di tempat lainnya, di jalan besar yang lurus baru saja selesai dibangun, terbentang mulus puluhan kilometer dipagari pepohonan. Dengan kanan kiri hutan yang sunyi. Di jalan ini sebuah mobil dapat berkendaraan sesuka hatinya, dengan kecepatan berapa pun sesuai kemampuannya, karena jalan ini masih sangat sepi. Musim kemarau membuat suhu udara cepat naik, pagi-pagi sudah cukup panas, fatamorgana meliuk-liuk di atas aspal. di antara fatamorgana itu terlihat tiga manusia sedang berjalan gontai. Oh tidak sepertinya empat orang. Tiga orang berjalan terdiri dari dua orang dewasa dan satu anak kecil kemudian satu lagi berada di punggung yang lain. Mereka berjalan tak tentu arah. Panas matahari tak terasa lagi karena dunia ini sudah bagaikan neraka bagi mereka. Mereka tak tahu lagi apa yang harus mereka perbuat untuk hidup. Tak ada tangis, tak ada senyum apa lagi tawa dan canda seperti biasa. Kedua anaknya pun seolah setuju, tak berkomentar, tak rewel seperti biasa, tidak berlari, tidak melompat, mereka hanya memandangi wajah dingin orang tua mereka. Seakan tidak ada kehidupan lagi. Seakan tidak ada masa depan lagi. Seakan tidak ada harapan lagi. Selamat tinggal keinginan untuk menggunakan seragam merah putih, selamat tinggal kehidupan yang sempurna. Mereka adalah empat orang penghuni rumah itu. Ayah, ibu, aku dan adikku.
Seluruh harta benda milik keluarga telah menjadi penebus hutang. Itu mungkin bukan masalah besar bagi ayahku. Tapi kenyataan bahwa seluruh harta itu tidak sanggup menutupi segala kerugian dan membayar upah para pekerja yang sudah susah payah membangun proyek-proyek itu yang membuat ayahku koleng . Hutang bertumpuk. Dan ia merasa bertanggung jawab atas semua ini, ia merasa ini semua adalah kesalahannya. Ia mencoba lagi dan gagal, lalu ia mencoba lagi kemudian gagal lagi. Hutang semakin bertumpuk. Ayah pun menyerah, asa pun hilang sudah.
--oo-o-oo--
Awalnya ayah yang berdiri di tengah jalan.
“Mau ngapain bang?” Teriak ibu di pinggir jalan.
“Ri, abang sudah tidak sanggup lagi.” Ayahku menunduk.
“Maafkan abang. Abang membawa kamu sejauh ini. Maafkan abang. Kalau seandainya kamu tidak menikah dengan abang, pasti lain ceritanya. Maafkan abang ri.”
“Abang ngomong apa? Sini bang, jangan di tengah jalan, nanti ketabrak mobil.” Teriak ibuku. Aku tertegun melihat drama ini.
“Ri, sudahlah. Kamu jalan duluan. Abang titip anak-anak kita.” Ayahku berbicara datar.
Tiba-tiba ibuku menyambar tanganku dan memegangnya kuat-kuat. Lalu ia berjalan ke tepat ayahku berdiri di tengah jalan raya itu. Ayah dan ibu cuma saling berpandangan. Entah apa yang mereka katakana melalui pandangan mata itu. Semenjak menikah dengan ayahku, ibuku selalu menemani ayahku, dalam susah dan senang. Walau pun pertengkaran acap kali terjadi itu karena kemanjaan ibu yang selalu ingin diperhatikan lebih oleh ayah. Entah apa arti dari tatapan mata mereka. Pada akhirnya kami berempat duduk di tengah jalan.
Lama kami duduk di tengah jalan besar yang lurus dan mulus itu. Berharap sebuah truk besar lewat dan melindas kami berempat. Supaya cerita pun berakhir. Tak ada kepedihan, tak ada penyesalan, tak ada lagi masalah. Tak ada yang meninggalkan, tak ada yang ditinggalkan. Tak ada siapa yang menangisi siapa. Akhir yang sempurna. Begitukah akhir cerita yang sempurna.
--oo-o-oo--
Berjam-jam tak ada satu pun kendaraan yang lewat. Matahari sudah tepat di atas ubun-ubun tapi jalan besar ini hanya sepi. Tiba-tiba saja keheningan itu pecah karena satu suara. Suara itu berasal dari perutku.
“Mamah, Ari lapar.” dengan polosnya.
“Dari pagi Ari belum makan.”
“Kita mau kemana sih? Padahal Ari kemarin mau diajak Pak Toto main ke sekolah. Ari kan mau sekolah. Nanti kalo Ari sudah sekolah, nanti Ari jadi insinyur, nanti Rara, Ari yang sekolahkan. Bapak nggak usah kerja lagi.” Aku berbicara panjang lebar. Kedua orang tuaku menatapku dengan mata berkaca-kaca. Mereka tak menyadari anak sekecilku bahkan bisa memahami keadaan yang sedang terjadi. Lalu tiba-tiba ayah memelukku.
“Maafkan Bapak, Ari. Maafkan Bapak.” Menciumiku seolah aku anaknya yang hilang dan baru saja ditemukan. Lalu air mata mulai mengalir ke pipinya dan menempel di wajahku. Ayah lalu memelukku erat sambil terus mengulang-ulang kata maaf. Sedangkan ibu melihat kami berdua sambil terisak.
Sementara mobil jeep hitam melaju dengan kecepatan penuh. Jalan sepi dan mulus menggoda siapa saja pengendara kendaraan bermotor untuk melaju kencang dan makin kencang. Karena jalannya lurus maka seharusnya kami dapat melihat mobil tersebut pada jarak ratusan meter. Tapi karena kami sedang terharu, hanya adikku yang menyadarinya. Adikku belum bisa bicara, ia baru bisa bergumam dan mengetahui beberapa kata saja. Adikku berteriak kegirangan sambil bergumam..
“mamama…mmbbiimm…mbbiimm..mbbimm..”
Tiba-tiba terdengar suara deritan rem mobil memecah suasana haru.
“ciiiiittttttttt”…
Rupanya pengendara mobil itu sudah menyadari keberadaan kami puluhan meter dari tempat kami berada dan langsung merem mobilnya sedemikian rupa. Sehingga tampak jejak roda mobil di atas jalan yang mulus itu. Tapi rupanya rem yang berderit itu tak sanggup menghentikan mobil jeep besar itu. Karena momentum mobil ini sangat besar sehingga sulit dihentikan. Pengendara mobil memutuskan membanting setir ke kiri tak ayal lagi “Brraaakkk!!” jeep itu menabrak pohon di pinggir jalan.
--oo-o-oo--
Tak banyak yang bisa ku tulis kali ini.. Tak apalah.. bagi kawan yang membaca harap berikan masukan jika berkenan.. wassalam..