Sabtu, 21 Januari 2012

Akhir yang sempurna

Ayahku memenangkan tender untuk proyek pembangunan di kabupaten tempat asalku yang saat itu baru mulai terjamah oleh peradaban modern. Ia membangun jalan, jembatan dan monumen-monumen. Kami sekeluarga memiliki rumah dan kendaraan bermotor, kehidupan yang sederhana mungkin saat ini, tapi bagi kami ini adalah episode terbaik dalam hidup kami. Ayah tidak memikirkan kehidupan mewah, ia hanya bahagia jika melihat istri dan anaknya tersenyum. Di proyek yang besar ini ayah memutarkan modal orang yang berada, dan mempekerjakan warga sekitarnya yang menganggur. Sehingga semua pihak merasa diuntungkan. Tak heran namanya semakin populer, asalnya seorang pemain musik dalam sebuah orkes kecil menjadi kontraktor. Semua orang mengelu-elukan dia. Sampai sepupu-sepupuku jika ditanya sudah besar mau jadi apa? Jawabannya adalah mau jadi Pak Elan. Begitu populernya nama ayahku.

Hidup tak selalu lurus. Banyak belokan dan sering kali turun naik. Banyak orang yang bangga terhadap keberadaan ayahku tapi sayangnya, ada juga orang yang menganggapnya saingan. Ayahku orang yang supel, sehingga ia banyak memiliki teman dari berbagai kalangan. Tapi dalam keadaan seperti ini kadang susah dibedakan mana teman dan mana lawan. Semakin tinggi tingkatannya, ternyata persaingan semakin tidak sehat. Ayahku mulai merasaka itu, tetapi ia mencoba mempertahankan semua yang telah ia bangun dari awal. Ia selalu percaya, semakin tinggi suatu pohon maka angin yang menerpanya akan semakin besar pula. Walau begitu ia yakin bahwa tuhan tidak akan memberikan cobaan yang tidak akan sanggup kita pikul.

Tak ada gading yang tak retak. Sepandai-pandai tupai melompat satu saat jatuh juga. Dua peribahasa itu memang berlaku. Beberapa proyek besar gagal karena tidak sesuai permintaan. Pemberi tender menuntut ganti rugi, bukan untung yang didapat malah ayah harus mengganti semua kerugian itu. Para pekerja tak mendapat gaji penuh, para penanam modal lemas bak gambler yang kalah judi. Bumi ini terasa berguncang, dan kiamat di depan mata.
--oo-o-oo--


Pagi yang cerah di desa yang bersahaja. Ayam jantan berkukuruyuk, burung-burung berkicau, bersiul-siul menikmati indahnya pagi ini. Para lelaki petani menenteng cangkul berjalan menyusuri galengan-galengan sawah, diikuti istrinya yang mengais bakul yang berisi bekal dan air serta anaknya yang belum sekolah berlari-lari kecil sambil membawa layang-layang di punggungnya. Sementara anak sekolah saling menjemput lalu berderet dengan baju merah putih yang seragam berjalan sambil bersenda gurau. Sementara aparat desa yang pergi ke kantornya sibuk membunyikan klakson sepedanya, sambil berteriak pada anak-anak sekolah yang kadang berlarian menyeberangi jalan sehingga hampir tertabrak oleh sepeda kumbangnya. Sementara beberapa guru berbaris dengan sepedanya sambil berbincang. Semuanya seperti sediakala.

Sementara di sebuah rumah tidak jauh dari sekolah dasar, tampak sepi. Tidak ada sang istri yang biasanya menyiram bunga sambil menyapa orang yang lalu lalang, tidak ada suaminya yang ramah yang biasa mencuci motor di depan rumah. Tidak ada dua anaknya yang berteriak-teriak karena mereka sangat ingin memakai seragam merah putih seperti siswa-siswa sekolah dasar itu. Kini yang terlihat hanya halaman yang kering, tanaman yang mulai layu, dan papan besar yang bertulis “rumah ini disita”. Lalu kemana penghuni rumah itu?

Di tempat lainnya, di jalan besar yang lurus baru saja selesai dibangun, terbentang mulus puluhan kilometer dipagari pepohonan. Dengan kanan kiri hutan yang sunyi. Di jalan ini sebuah mobil dapat berkendaraan sesuka hatinya, dengan kecepatan berapa pun sesuai kemampuannya, karena jalan ini masih sangat sepi. Musim kemarau membuat suhu udara cepat naik, pagi-pagi sudah cukup panas, fatamorgana meliuk-liuk di atas aspal. di antara fatamorgana itu terlihat tiga manusia sedang berjalan gontai. Oh tidak sepertinya empat orang. Tiga orang berjalan terdiri dari dua orang dewasa dan satu anak kecil kemudian satu lagi berada di punggung yang lain. Mereka berjalan tak tentu arah. Panas matahari tak terasa lagi karena dunia ini sudah bagaikan neraka bagi mereka. Mereka tak tahu lagi apa yang harus mereka perbuat untuk hidup. Tak ada tangis, tak ada senyum apa lagi tawa dan canda seperti biasa. Kedua anaknya pun seolah setuju, tak berkomentar, tak rewel seperti biasa, tidak berlari, tidak melompat, mereka hanya memandangi wajah dingin orang tua mereka. Seakan tidak ada kehidupan lagi. Seakan tidak ada masa depan lagi. Seakan tidak ada harapan lagi. Selamat tinggal keinginan untuk menggunakan seragam merah putih, selamat tinggal kehidupan yang sempurna. Mereka adalah empat orang penghuni rumah itu. Ayah, ibu, aku dan adikku.

Seluruh harta benda milik keluarga telah menjadi penebus hutang. Itu mungkin bukan masalah besar bagi ayahku. Tapi kenyataan bahwa seluruh harta itu tidak sanggup menutupi segala kerugian dan membayar upah para pekerja yang sudah susah payah membangun proyek-proyek itu yang membuat ayahku koleng . Hutang bertumpuk. Dan ia merasa bertanggung jawab atas semua ini, ia merasa ini semua adalah kesalahannya. Ia mencoba lagi dan gagal, lalu ia mencoba lagi kemudian gagal lagi. Hutang semakin bertumpuk. Ayah pun menyerah, asa pun hilang sudah.
--oo-o-oo--

Awalnya ayah yang berdiri di tengah jalan.
“Mau ngapain bang?” Teriak ibu di pinggir jalan.
“Ri, abang sudah tidak sanggup lagi.” Ayahku menunduk.
“Maafkan abang. Abang membawa kamu sejauh ini. Maafkan abang. Kalau seandainya kamu tidak menikah dengan abang, pasti lain ceritanya. Maafkan abang ri.”
“Abang ngomong apa? Sini bang, jangan di tengah jalan, nanti ketabrak mobil.” Teriak ibuku. Aku tertegun melihat drama ini.
“Ri, sudahlah. Kamu jalan duluan. Abang titip anak-anak kita.” Ayahku berbicara datar.
Tiba-tiba ibuku menyambar tanganku dan memegangnya kuat-kuat. Lalu ia berjalan ke tepat ayahku berdiri di tengah jalan raya itu. Ayah dan ibu cuma saling berpandangan. Entah apa yang mereka katakana melalui pandangan mata itu. Semenjak menikah dengan ayahku, ibuku selalu menemani ayahku, dalam susah dan senang. Walau pun pertengkaran acap kali terjadi itu karena kemanjaan ibu yang selalu ingin diperhatikan lebih oleh ayah. Entah apa arti dari tatapan mata mereka. Pada akhirnya kami berempat duduk di tengah jalan.

Lama kami duduk di tengah jalan besar yang lurus dan mulus itu. Berharap sebuah truk besar lewat dan melindas kami berempat. Supaya cerita pun berakhir. Tak ada kepedihan, tak ada penyesalan, tak ada lagi masalah. Tak ada yang meninggalkan, tak ada yang ditinggalkan. Tak ada siapa yang menangisi siapa. Akhir yang sempurna. Begitukah akhir cerita yang sempurna.
--oo-o-oo--

Berjam-jam tak ada satu pun kendaraan yang lewat. Matahari sudah tepat di atas ubun-ubun tapi jalan besar ini hanya sepi. Tiba-tiba saja keheningan itu pecah karena satu suara. Suara itu berasal dari perutku.
“Mamah, Ari lapar.” dengan polosnya.
“Dari pagi Ari belum makan.”
“Kita mau kemana sih? Padahal Ari kemarin mau diajak Pak Toto main ke sekolah. Ari kan mau sekolah. Nanti kalo Ari sudah sekolah, nanti Ari jadi insinyur, nanti Rara, Ari yang sekolahkan. Bapak nggak usah kerja lagi.” Aku berbicara panjang lebar. Kedua orang tuaku menatapku dengan mata berkaca-kaca. Mereka tak menyadari anak sekecilku bahkan bisa memahami keadaan yang sedang terjadi. Lalu tiba-tiba ayah memelukku.
“Maafkan Bapak, Ari. Maafkan Bapak.” Menciumiku seolah aku anaknya yang hilang dan baru saja ditemukan. Lalu air mata mulai mengalir ke pipinya dan menempel di wajahku. Ayah lalu memelukku erat sambil terus mengulang-ulang kata maaf. Sedangkan ibu melihat kami berdua sambil terisak.

Sementara mobil jeep hitam melaju dengan kecepatan penuh. Jalan sepi dan mulus menggoda siapa saja pengendara kendaraan bermotor untuk melaju kencang dan makin kencang. Karena jalannya lurus maka seharusnya kami dapat melihat mobil tersebut pada jarak ratusan meter. Tapi karena kami sedang terharu, hanya adikku yang menyadarinya. Adikku belum bisa bicara, ia baru bisa bergumam dan mengetahui beberapa kata saja. Adikku berteriak kegirangan sambil bergumam..
“mamama…mmbbiimm…mbbiimm..mbbimm..”
Tiba-tiba terdengar suara deritan rem mobil memecah suasana haru.
“ciiiiittttttttt”…
Rupanya pengendara mobil itu sudah menyadari keberadaan kami puluhan meter dari tempat kami berada dan langsung merem mobilnya sedemikian rupa. Sehingga tampak jejak roda mobil di atas jalan yang mulus itu. Tapi rupanya rem yang berderit itu tak sanggup menghentikan mobil jeep besar itu. Karena momentum mobil ini sangat besar sehingga sulit dihentikan. Pengendara mobil memutuskan membanting setir ke kiri tak ayal lagi “Brraaakkk!!” jeep itu menabrak pohon di pinggir jalan.
--oo-o-oo--

Tak banyak yang bisa ku tulis kali ini.. Tak apalah.. bagi kawan yang membaca harap berikan masukan jika berkenan.. wassalam..

Anggota ke-4

Malam itu aku terbangun karena suara bising di luar mengganggu tidurku. Tak ada siapa pun di tempat tidur selain aku, padahal seingatku aku tidur bersama ibu. Suara bising di luar membuatku ingin tahu. Lalu aku putuskan untuk melihat keluar. Saat aku turun dari tempat tidur, aku merasa ada yang aneh dengan lantai. Rupanya basah, ada air tergenang sampai ke luar kamar. Aku melangkah keluar dan kulihat ada sebuah ember tergeletak di depan pintu kamar. Terdengar suara ibu yang bicara setengah teriak, lalu suara ayah satu oktaf dibawah suara ibu. Aku mengeluarkan kepalaku untuk melihat yang terjadi. Terlihat ibu sedang marah-marah sambil menangis dan ayah sedang berusaha menjelaskan sesuatu. Pemandangan yangsering aku lihat. Tapi kali ini beda. Ibu tak bisa lagi dibujuk. Tiba-tiba ibu berteriak diikuti suara kayu yang menghantam lantai. Guprak!. Lalu sesuatu yang pecah. Meja tamu terjungkal asbak kaca dan pot bunga diatasnya hancur berserakan. Lalu ibu berlari keluar dan menghilang dalam gelapnya malam itu. Aku berlari ke arah pintu. Kudapati ayah berdiri sambil tertunduk tak kuasa menahan kepergian ibu.
"Mama.. mama.. mama.." aku berteriak memanggil ibu, berharap ia kembali setidaknya untuk mencium pipiku sebelum ia pergi.
"Eh ari bangun ya.." ayahku menyapaku seperti biasa.
"Mama.. kemana?"
"Mama lagi maen ke rumah nenek.. Ari tidur lagi ya.. Besok ari juga boleh maen ke rumah nenek" Ayah menggendongku, lalu membawaku ke tempat tidur. Sekilas kulihat rumah sangat acak-acakan. Seperti perahu yang habis diserang badai. Aku tak terlalu mengerti apa yang terjadi. Bagiku hal seperti ini biasa saja. Aku tertidur lagi.
Kejadian semalam rasanya seperti mimpi saja bagiku saat pagi tiba . Karena kulihat rumah tampak rapi, seperti tak pernah terjadi apa-apa. Tapi aku yakin bukan mimpi karena saat aku bangun kusaksikan ayah sedang sibuk menjemur pakaian. Dia pasti mencuci semua pakaian kotor yang ditinggal ibu. Ayah menyapaku seperti biasa. Ia menyiapkan sarapan dan kita bermain. Seperti biasa, walau aku masih kecil aku anak yang dapat menjadi teman yang baik dan banyak memberikan masukan. Tapi itu bukan berarti ayah lupa kejadian semalam. Ia tahu ada yang salah dengan keluarga ini. Pertengkaran semalam bukanlah yang pertama. Ia juga menyadari mungkin ia sendiri pemicu pertengkarannya. Ia selalu pulang malam. Ibuku bukan orang yang suka memberikan toleransi pada orang yang telat pulang malam. Maka dari itu setiap ayah pulang malam sudah selayaknya disambut dengan siraman air semeriah mungkin. Kemudian ayah meminta maaf dan ibu tak mau tahu. Ibu menangis dan ayah berusaha membujukknya. Kadang berhasil kadang juga tidak. Kalau sudah kalap ibu akan pergi kerumah nenek. Mungkin ibu memang penakut, tapi kemarahannya lebih besar dari rasa takutnya. Karena rasa marahnya itu ia berani berjalan melintasi 2 kampung dengan tanpa penerangan, cahaya hanya didapat dari bintang-bintang dan beberapa obor di depan rumah warga yang kebetulan baik hati mau menerangi jalan. Aku dijemput teh awi untuk main ke rumah nenek. Dan bila waktu sudah agak sore ayah akan datang ke rumah nenek, disanalah ibu dan ayah selalu mendapatkan ceramah dan kata-kata bijak. Sebanyak kata bijak yang nenek berikan kepada mereka sebanyak itu pula pertengkaran terjadi.

Ayah sangat mencintai ibu. Sampai aku lahir bahkan cintanya malah makin bertambah. Tetapi ternyata hidup itu bukan hanya cinta. Ayahku kerja serabutan. Tapi ia selalu berjanji pada ibu, walau dia tidak punya penghasilan tetap tetapi dia akan berusaha tetap berpenghasilan apapun yang terjadi. Pernah suatu hari ayahku kerja, entah jadi kuli bangunan, kuli angkut atau kuli mencangkul sawah orang ia sampai tidak bisa jalan dan pulang merangkak. Ayah yang memang dibesarkan dengan dimanja dan mendapat kasih sayang penuh dari kedua orang tuanya rela melakukan apa saja untuk makan keluarganya dan sekedar membayar kontrakan, Bukti lain cinta ayah kepada ibu. Ayah selalu memeluk dan mencium kening ibu sebelum bepergian, dan membiarkan ibuku masuk kerumah. Jadi lain dengan yang lain biasanya orang yang pergi diantarkan dengan lambaian tangan dari halaman rumah dan orang itu berlalu pergi, tapi ayahku tidak akan jadi pergi jika melihat ibuku masih melihat dia. Dia akan menyuruh ibu masuk ke rumah dan menunggu sampai ia kembali. Sepanjang jalan tak lupa ia titipkan ibuku kepada tetangga-tetangga, Bu titip ery, ceu titip ery, mbak titip eri, kek titip ery. Begitulah sepanjang jalan. Sepulang dari pekerjaannya dari kejauhan ia sudah berteriak memanggil nama ibu. "Ery..! Ery..!" kemudian memeluk dan mencium ibu. Walau yang ia dapatkan hanya siraman seember air ia tak pernah ambil pusing. Ia selalu menerima apapun perlakuan ibu terhadapnya. Senyumnya tetap seperti itu. Tak ada rasa benci atau dendam sedikit pun. Tapi itu justru yang membuat ibuku semakin marah. Ia merasa kemarahannya tidak mendapat tanggapan karena besok ia akan pulang telat lagi.

Dengan rumah tangga yang ancur-ancuran seperti itu (orang sunda bilang awet rajet) ayahku selalu jadi idola di lingkungan tempat ia tinggal atau bekerja. Karena selain kerja serabutannya, ia selalu meluangkan waktu dengan pemuda-pemuda untuk menggarap sebuah orkes kampung. Ia memang seniman yang cukup baik, boleh dibilang paling hebat seantero kecamatan palas itu. Orkesnya terkenal sampai pelosok-pelosok kampung. Tapi tidak diketahui di pelosok-pelosok kota. Ini yang membuat ayah pulang selalu telat. Suatu hari ibuku menangis lagi, sore itu ayah harus latihan orkes, ayah tidak mungkin pergi jika ibu sedang seperti itu. Ternyata ibuku ingin ikut ke tempat ayahku latihan, ia tak mau sendirian di rumah, aku kebetulan sedang main di rumah nenek mungkin sampai menginap. Akhirnya ayah membawa ibu ke tempat ia latihan. Dan di sana, orang-orang menyambut kedatangan ayah layaknya artis terkenal, seperti orang-orang menyambut Rhoma Irama. Ibuku terkejut melihat perlakuan mereka terhadap ayah. Dan yang lebih mengejutkan lagi mereka seperti yang sudah mengenal ibu.
"Wah Ery ikut lan?" tanya salah satu teman ayah.
"Wah berarti hari ini hari spsesial ya lan?" timpal yang lainnya.
"Iya nih, dia lagi ulang tahun" sambil tersenyum kepada ibu.
Mendengar perkataan ayah barusan ibu terkejut dan kontan teman-teman ayah satu persatu menyalaminya dan memberikan ucapan selamat serta doa. Ibu tersipu malu wajahnya kemerah-merahan. Ayah tersenyum bangga lalu kemudian ia bersama teman-temannya menyanyikan beberapa lagu layaknya dalam pesta ulang tahun seseorang.

Pulang ke rumah ibuku senang sekali. Ia diperlakukan dengan baik layaknya putri raja oleh teman-teman ayah. Setelah sampai di rumah ibu bertanya pada ayah dengan penuh rasa kagum.
"Abang inget ulang tahun Ery? Biasanya juga ga inget" Ayahku tersenyum bangga tapi aneh ia malah balik bertanya
"emang sekarang tanggal berapa sih ri abang juga ga tahu sekarang tanggal berapa" Ibuku tersentak seketika air mukanya berubah. Lalu ibuku melihat kalender
"sekarang tanggal 23 Oktober 1988, ulang tahun Ery kan tanggal 3 Juli" ibu menarik nafas lalu memandang ayah dengan sorot mata yang tajam, lalu "Abaaaangngngng..!" iya berteriak sekeras kerasnya lalu menangis sambil marah dan teriak-teriak. Prak, pruk, gubrak, gebruk... barang-barang mulai berjatuhan dan kursi-kursi melayang di udara lalu menghantam lantai sekeras-kerasnya. Ibuku mengamuk. Ayah seperti biasa, ia seperti penjinak banteng yang terus berputar-putar, menjelaskan maksudnya supaya ibu tidak marah-marah. Ahirnya ibu pulang lagi ke rumah nenek.

Tapi ternyata hidup tidaklah statis. Keadaannya terus berubah-ubah layangnya angin yang berhembus, tidak ada aliran yang laminer atau stasioner seperti yang di idealkan dalam fluida dinamis pada pelajaran fisika semester 2 kelas XI SMA, kebanyakan aliran angin itu turbulen (tidak beraturan) dan kerapatannya tidak merata. Banyak sekali pusaran tetapi ia terus berhembus menyongsong apa yang ada dihadapannya. Jika kita sudah mempunyai apa yang kita cita-citakan tidak akan seideal yang kita rencanakan, kadang kita bertemu pusaran dan berputar-putar di sana seakan tak bisa lepas, padahal jika dilihat dari kerangka acuan lain kita semakin dekat dengan tujuan kita.



Aku berusia 4 tahun dan aku terus merengek meminta seorang adik perempuan pada ibukku. Aku selalu main ke tetangga yang ada bayinya, sambil bercerita pada orang-orang kalau aku akan punya adik perempuan. Entah bagaimana awalnya, ibu pun mengandung. Hari-hariku penuh dengan keceriaan, kuceritakan hal ini pada teman-teman ku di taman kanak-kanak, pada tetangga-tetangga, pada siapa saja yang aku temui. Kebetulan aku agak SKSD, dengan orang yang baru kenal pun aku tidak canggung untuk mengobrol. Waktu main bersama teman-temanku pun aku selalu menambahkan tokoh adik perempuanku dalam permainan. Tiap malam aku dengarkan perut ibuku dan bertanya kapan ia akan lahir.

Entah bagimana aku bisa meyakini kalo adik dalam perut ibuku itu perempuan padahal tidak pernah USG. "Ari, adik kamu pasti lelaki, soalnya mama aktif banget, biasanya kalo aktif gitu berarti ngandung anak lelaki" celoteh ibu-ibu tetanggaku seolah menguji keyakinanku.
"Gak mungkin ade Ari pasti perempuan, liat aja nanti!" jawabku serius, cadel , sambil mulut termonyong-monyong dan mengerutkan kening tanda aku benar-benar kesal dan jengkel dengan pernyataan itu.

28 Oktober 1990 aku pulang bermain dengan teman-teman, tiba-tiba aku mendengar tangisan bayi dari arah rumah nenek dan itulah tangisan pertama adikku. Aku tidak boleh langsung lihat, setelah ia terbungkus oleh kain yang membungkus seluruh tubuhnya kecuali wajahnya barulah aku boleh menyapanya. "Ade perempuanku Ari lahir..Hore..!!!" langsung aku merangkul ingin menggendongnya, paraji memegang tanganku memisahkan aku dengan adikku.
"Eeit.. ari ngga boleh dulu ngegendong, belum bisa.." aku langsung menatap paraji itu kesal.
"Ari kenapa tau adiknya perempuan, kan belum ada yang tahu selain orang yang ada di rumah?" tanya paraji itu. Wajahku berubah gembira.
"Ari kan mau adik perempuan, ari minta sama Allah"
Semua orang disitu tertawa.

Karena aku tak boleh memegang adikku, aku lari keluar mencari ibu-ibu tetangga yang kemarin.
"Bi..bi.. ade ari dah lahir.. Perempuan..perempuan" aku berteriak-teriak di depan dia yang sedang mencuci pakaian. Ibu-ibu itu langsung membasuh tangannya dan menciumku.
"Anak pinter... mana bi Ros mau liat."

Anggota keluarga yang ke-4 ini diberi nama oleh kakak dari ibu yang aku panggil Wa Edi. Karena kakek sudah tidak ada jadi yang memberi nama anak tertua dari kelurga ibu. Sayang sekali kakek sudah tiada, dia hanya sempat memberi nama pada cucu pertamanya saja, yaitu aku. Nama anggota keluarga yang ke-4 ini Rara Ardita. Lalu pada umur 5 tahun ia mengganti namanya sendiri menjadi Resti Haryati pesiperwati, entah nama dari siapa itu atau mungkin dia mengarang sendiri karena dia memang pandai mengarang, dan setelah masuk sekolah namanya menjadi Mutiara Ardita tapi panggilan keluarga tetap Rara.

Selain ibuku, orang yang selalu aku bela adalah adikku ini. Apapun yang kumiliki adalah miliknya. Apapun miliknya kita bagi bersama. Ia pernah meminjam mobil-mobilanku lalu ia lempar sampai baterenya hilang dan rodanya copot, pistol-pistolaku juga tidak jauh beda. Aku tak pernah marah. Kehadirannya adalah pelita baru bagi keluargaku. Rembulan baru yang menerangi malam di gubuk kecil itu. Sejak saat itu keluarga kami jadi lebih hangat. Tidak ada lagi pertengkaran antara ayah dan ibu.

Suatu sore, ayahku baru pulang dari tempat kerjanya.
"Ry, kita pindah kontrakan besok"
"Apa??? pindah lagi!" jawab ibu jengkel.
Kita memang hidup berpindah-pindah selama lebih dari 5 tahun kurang lebih. Ayahku memang tak mau menyusahkan mertua dan orang tuanya. Walau hidup seadanya tetapi hasil dari tenaga sendiri.
"Abang dapet kerjaan dari anak ibu Iyut"
"Ibu Iyut?" ibuku agak terkejut mendengar nama itu.
"Iya kita disediakan tumpangan di sana. Ga perlu bayar"
"Kok ga perlu bayar?" tanya ibuku penasaran.
"Abang kan kerja sama anaknya, jadi biar lebih lancar diminta tinggal disana"
"Oo begitu.. Bang Ibu Iyut itu orang terkenal loh di palas ini"
"Terkenal gimana?"
"Dia salah satu tokoh yang disegani di palas, siapa pun pasti kenal dia"
"Masa sih?.. Begitu ya.. Abang kurang tahu ry."

Lalu esok harinya kita pindah. Dan kita tiba di rumah Ibu Iyut. Rumahnya sederhana tapi luas dan ibu Iyut tinggal sendiri. Lalu ayah mengobrol sebentar sambil memperkenalkan anggota keluarganya. Ibu iyut sangat tertarik oleh adikku, ibu Iyut bilang adikku lucu sekali. Ibu Iyut memang tak pernah punya cucu. Setelah itu ayah membawa kami ke rumah yang akan kami tinggali.
"Ini dia, kita akan tinggal di sini" sesampainya di depan sebuah gubuk. Ibuku tersentak melihat keadaan gubuk itu.
"Abang, kita ngontrak di sini?" ibu setengah tidak percaya.
"ini kan…?" ibu tak kuasa menyebutnya.
"kenapa? jelek?" ibuku hanya menatap ayah. Ayah tersenyum.
"Memang ini bekas kandang ayam.."
"Apa????" ibu tersentak kaget. "Pantesan..." ibu mengusap kedua matanya seolah memastikan apa yang ia lihat itu benar-benar tempat yang akan ia tinggali. Entah akan berapa lama ia tinggal di situ.
"Untuk beberpa bulan kita tinggal disini, itu kita tetanggaan sama ayam" Sambil menunjuk ke kandang ayam yang masih di pakai. Memang kandang ayam punya ibu Iyut bentuknya agak aneh, seperti gubuk dengan dinding geribik tanpa lantai. Ibu cuma bisa pasrah. Ibuku tak pernah protes diajak ketempat seperti apapun. Selama ayahku yang membawa. Ibuku selalu merasa aman selama ada ayah disampingnya.

Dari gubuk bekas kandang ayam itulah kehidupan kami mulai berubah. Gubuk itu kita tinggali tidak lebih dari tiga bulan. Rupanya ayah mencoba usaha di bidang penyediaan alat-alat berat untuk pembangunan jalan dan jembatan bersama beberapa temannya. Dalam jarak beberapa bulan ayahku sudah bisa membangun sebuah rumah dan memiliki kendaraan sendiri. Kehidupan kami benar-benar berubah. Cinta diantara kami berempat membuat cerita kebahagiaan ini semakin indah.

-0000000-

Cerita sebelum aku

Sebelum aku lahir, tentu ayah-bundaku dulu dong yang lahir tapi kelahiran mereka aku tak begitu faham, maka dari itu kita mulai dari saat pertemuan mereka saja. Pada saat itu aku masih berupa tanah yang mungkin masih mengendap di dasar sungai yang kemudian mengalir ke hilir dan tiba-tiba terhempas ke pesawahan. Kemudian para petani mengolahnya menjadi nutrisi untuk butiran-butiran padi yang kemudian dimakan oleh Bundaku.

Lampung Selatan, disanalah mereka pertama bertemu. Ayah (Elan) dan Bunda (Ery) punya latar belakang yang berbeda. Sangat berbeda. Ayahku lahir dari keluarga guru yang ramah dan bersahabat, sedangkan ibuku lahir dari teknisi yang terbilang galak atau mungkin sangat galak. Sehingga karakter mereka jauh berbeda. Ayahku lembut dan ibuku bisa dibilang galak. Tapi ini membuat kisah mereka sangat renyah untuk diceritakan. Kisah percintaan yang tak pernah terbayangkan.

Ayahku adalah seorang yang sangat idealis dalam urusan mencari nafkah. Ia adalah keukeuh ingin jadi seorang enterpreneur. Sedangkan orang tua, kakak dan saudara-saurdaranya menginginkan ia menjadi seorang PNS (Pegawai Negeri Sipil). Memang begitulah keadaan orang indonesia. Mungkin sampai saat ini. Jadi PNS adalah pilihan yang paling aman. Jadi PNS adalah jaminan bagi mereka untuk bisa bertahan hidup dan menafkahi anak istrinya. Kemudian mental seperti itu diterapkan kepada anak-anaknya bahkan cucu-cicitnya. Tapi ayahku... Orang yang keras kepala di mata keluarganya.

Ibuku, orang yang sudah sepantasnya aku rela mati demi membelanya dan aku rela mencium kakinya walau itu penuh dengan lumpur sekalipun. Ketika beliau sedang marah, aku tak rela pergi sebelum kulihat dia tersenyum dan memaafkan kesalahanku. Walau demikian, di masa mudanya ia hanya seorang gadis yang tidak lulus SD. Memang begitu. Tapi, dia adalah atlet volley ball yang bisa dibanggakan di desa Bandan Hurip, bahkan namanya santer disebut-sebut di kecamatan Palas. Manja tapi berwibawa. Memang begitu. Kekanak-kanakan tapi kata-katanya bijak. Memang begitu. Percaya aja deh... Pemalas, setidaknya itu yang dikatakan nenekku. Nenekku pernah berkata sambil mengosok-gosokan tembakau ke giginya "Mamah lo tu, waktu masih gadis, ga pernah mau belajar masak.. Alesannya Ery-kan bakal kawin ma lelaki kaya raya jadi nanti punya pembantu.. Gitu katanya." Ibuku cuma tersenyum mendengar cerita itu seakan mengiyakan.

Ibuku lahir dan besar di Jakarta, lalu pindah ke lampung karena nenekku sakit-sakitan dan butuh udara segar mengingat jakarta semakin lama malah semakin tak nyaman untuk ditinggali. Lampung bagi ibuku adalah kampung (bukan kota) yang nyaman untuk ditinggali, yang hingga saat ini jadi kampung tempat kita mudik lebaran. Kakekku adalah orang yang terpandang di kampung itu sehingga ibuku sangat disegani oleh bujang-bujang di dusun Waras Jaya desa Bandan Hurip kecamatan Palas, Lampung Selatan.

Sedangkan ayahku, orang yang mengikuti instingnya. Ia bercita-cita menikah dengan orang jakarta. Biasalah si Kabayan mencari cinta. Ia mengikuti jejak kakak iparnya, seorang jaksa kebetulan ditugaskan di Lampung. Ia mencari peluang usaha di Lampung. Aku juga tak habis pikir, kenapa ia tidak cari peluang usaha di Jakarta. Itulah jodoh. Di Lampung tentu saja ayahku menemukan cita-citanya menjadi enterpreneur. Tapi sebelum bertemu dengan ibuku, ia bekerja di mana saja, kadang jadi juru tulis, kadang jadi guru dan aku tak terlalu mengetahui riwayat pekerjaan ayahku tapi ia bahkan kenal dengan dosen UNILA (Universitas Negeri Lampung) satu-satunya universitas negeri di sana. Setidaknya itu yang diceritakan ibuku.

SDN 1 Bandan Hurip berhadap-hadapan dengan Puskesmas Palas. Tempat yang ramai didatangi oleh penduduk yang punya masalah dengan kesehatan. Ayahku, mengajar di SD itu. Ia adalah guru yang disukai oleh murid-muridnya terutama murid perempuan. Cerita ini, salah satu sumbernya adalah cerita dari murid-muridnya sewaktu mengajar di SD itu. Pada waktu istirahat Ayahku senang bermain dengan muridnya di halaman sekolah. Ia sangat senang bermain gitar dan bernyanyi, muridnya pun senang mendengar ia bernyanyi.

Suatu hari saat ayahku sedang bermain di halaman sekolah calon ibuku berjalan di dipan gerbang sekolah menuju puskesmas. Ia langsung terpana. Murid-muridnya rupanya memperhatikan gelagat gurunya itu dan segera mengerti. Salah satu muridnya berbisik kepadanya "Pak itu dia orang Jakarta itu, tinggalnya di dusun Waras Jaya, dekat Masjid Al-Hikmah". Ayahku tersenyum penuh arti dan melanjutkan nyanyiannya.

*******

Hujan turun gemericik, kupu-kupu terbang kian kemari menghindari butiran air hujan yang bertubi-tubi mencari arah menuju dedaunan tempat ia berteduh. Seperti ibuku di saat itu. Di akhir masa-masa remajanya. Dihujani ribuan pertanyaan. Dihujani ribuan tuntutan. Sudah 22 tahun usianya. Teman sebayanya sudah mempunyai suami bahkan ada yang sudah mempunyai anak. Masa itu, jelas itu kesalahan, setidaknya menurut budaya di kampung. Tapi tidak begitu bagi keluarga ibuku. Tak ada sedikit pun resah, apalagi ketakutan kalau kalau anaknya disebut gadis yang tak laku. Ibuku tersenyum di balik jendela kayu sambil mengikuti irama gemericik hujan dan menikmati tarian kupu-kupu di luar sana.

Tapi jangan salah, ibuku adalah gadis paling cantik di keluarga. Karena saudara-saudaranya memang lelaki semua. Dia juga gadis tercantik di dusun Waras Jaya RT1/RW1. Kalo ketemu orang-orang kampung pasti terkagum-kagum dan memujinya. Seorang nenek bahkan datang ke rumah hanya untuk bersalaman dengan gadis Jakarta ini. (Hahaha.. berlebihan ya.. memang begitu ceritanya.. jangan protes!). Perlu gambaran tidak kawan? Kalian penasaran gitu, yawdah aku gambarkan ya. Ery memiliki tinggi 165 cm, kulit putih kekuning-kuningan (atau lebih dekat kuning langsat), rambut hitam lurus dan tubuh atletis (secara atlet volley ball). Dalam jarak 100 m cowok jaman itu tak kan berkedip melihatnya berjalan. Tapi dari dekat, alis tipis, mata cokelat, hidung mungil dan sedikit bercak-bercak di pipi. Bercak-bercak itu bagai bercak-bercak pada sayap kupu-kupu, membuat keindahan yang belum pernah ditemukan saat itu. Habislah cowok-cowok itu. Kebanyakan dari mereka takkan mampu bicara didepan ibuku. Jika niat mereka untuk menyatakan cintanya.

Sebut saja Maman (aku lupa namanya), rumahnya dekat puskesmas. Jika ibuku pergi kepuskesmas ia pasti ribut. "Ada Ery.. Ada Ery.. Ada Ery.." Sambil masuk ke kamar dan mengintip di balik gorden jendela. Ketika ibuku lewat ia hanya berteriak di kamarnya. "Eryyyyy....!!!!". Tetangga depan rumahnya bilang pada ibuku. "Ry tuh si Maman suka sama kamu". Ibuku cuma tersenyum. Dan mungkin di dalam hatinya tertawa sambil berkata "Dasar cowok cemen..". Cinta Maman cuma menempel di dinding kamarnya, tak pernah ada sedikit pun keberanian untuk mengatakan langsung. Bahkan untuk berbicara dengan Ery pun sulit. Kalo berhadap-hadapan ia cuma bisa menatap ke bawah tak kuasa membalas tatapan ibuku yang tajam.

Ia biasa di sebut Pak Apar. Tak tahu aku nama aslinya. Pokoknya ia seorang guru PNS, yang sudah punya gaji tetap dan masa depannya sudah aman karena masa tuanya pun sudah dijamin oleh pemerintah. Bahkan kalo dia mati pun anak istrinya bakal tetap dapat makan. Setidaknya begitulah menurut dia. Sudah tua, 30 tahunan, mungkin lebih. Dan belum punya istri. Itu masalah. Dengan title Drs. yang ia punya tentu ia punya lebih banyak percaya diri dibandingkan cowok-cowok lain di kampungku. Oleh karena itu ia punya rencana untuk langsung saja melamar gadis yang ia sukai setengah mati ini. Dia adalah ibuku. Dia tahu, ibuku tidak akan pernah membantah pada bapaknya. Bukan karena ini cerita jaman dahulu. Tapi memang tidak ada yang bisa membantah peritah kakekku ini.

Kakekku, bermata cokelat juga dengan urat-urat merah di sekitar bola matanya, matanya selalu tampak menyala. Rambut di seluruh tubuhnya juga cokelat. Wajahnya penuh dengan rambut (kumis dan janggut), jika ia memelihara rambut itu, kira-kira gambarannya lihat saja Chuck Norris, aktor film-film cowboy itu-Cari aja deh di internet kalo ga tahu-Badannya tinggi besar dan kulitnya kuning kemerah-merahan. Katanya dulu ia bertato di sepanjang lengannya, bertuliskan JUPITER, dewa petir penguasa langit di mitologi Romawi. Itulah panggilan teman-teman pelautnya. Nama itu diberikan teman-temanya sebagai julukan. Julukan berdasarkan gambaran dari ciri-ciri fisik dan sifat kakekku. Tapi tato itu sudah hilang, ia sendiri yang membersihkannya dengan seterikaan.

Pak Apar sudah bulat tekadnya. Ia berdandan dengan rapi, memakai parfume, minyak tanco dan sisiran nyentrik ala Hitler. Senyumnya disiapkan untuk bertemu dengan calon mertua. Ia berakting didepan kaca. Senyum, gaya bicara, gaya berjalan, posisi duduk cara minum dan cara bersalaman dilatih secara intensif. Ia tanpa sadar hampir satu jam mempraktekan senyuman yang terbaik di depan cermin, ia baru sadar saat cermin itu retak. Ternyata, sudah saatnya berangkat. Keluar rumah, di depan pintu ia menghirup udara sore itu dengan riang. Dan segera melangkah dengan gagah, meraih sepeda ontelnya. Di kiri dan kanan mata orang-orang semua tertuju padanya. Pemilik kedai dan pelanggannya, tukang ikan yang baru selesai keliling menjual ikan, tukang sayuran yang menggendong bakul berisi sayuran dan makanan lain, pegawai desa yang baru pulang, semua memandan Pak Apar yang menungga sepeda sambil bersiul.

Sampai di Kampungku Pak Apar menitipkan sepedanya di temannya Mulyana biasa dipanggil Emul. Lalu ia minta ditemani berangkat ke rumah ibukku. "Kamu siap?" tanya temannya meyakinkan.
"Siap dong, aku Drs. masa ga siap" jawab Pak Apar.
"Ya sudah, kemon.."
Pak Apar dan temannya pergi ke rumah ibukku, yang benar itu rumah kakekku. Di serambi depan rumah, kakekku sedang membaca buku sambil menghisap cangklongnya. Keadaan itu membuat pak Apar jadi semakin semangat.
"Par, itu bapaknya".
"Bapaknya?.. Wah, biar aku yang ngomong duluan" Pekik pak Apar.
"Oke.."
Belum sempat pak Apar berkata, kakek yang menyadari kedatangan mereka malah bertanya lebih dulu. "Ada perlu apa?" Suara kakek memang agak keras, tapi ia tidak bermaksud mengagetkan orang. Lain maksud kakek lain pula efeknya buat pak Apar. Suara kakek begitu menggelegar di telinga pak Apar, seperti guntur pada musim hujan. Pak Apar cuma berdiri ternganga, ia tak menjawab. Emul dengan reflek mencubit tangan pak Apar. Pak Apar baru tersadar, tapi tetap diam.
"Kalian ini ada perlu apa?" kakek bertanya lagi. Kali ini sedikit lebih keras dengan nada jengkel. Ia merasa terganggu, sore itu kebetulan ia sedang membaca sebuah novel.
Emul mencubit pak Apar lagi, baru pak Apar bisa menjawab, walau sambil tergagap-gagap.
"Anu Pak, Pak Mail lagi baca buku ya?"
Emul memukul mukul kepalanya sendiri mendengar ucapan itu. Pak Apar pun sadar, betapa bodohnya pertanyaan itu. Ia ingin sekali menggali lubang lalu mengubur dirinya hidup-hidup.
Kakekku melepas cangklongnya lalu menatap kedua pemuda itu satu persatu.
"Iya.. Jadi kalian jangan ganggu.." Lalu kakek kembali membaca buku sambil memasukan cangklongnya kemulut lagi.
"Maaf, mengganggu pak Mail.. Mari.." Emul langsung berpamitan.
Emul dan pak Apar berjalan cepat-cepat. Ia malah bertamu ke tetangga rumah. Kebetulan rumah di kampung masih jarang jadi jaraknya sekitar 50 meter dari rumah kakek. Disana lah kisah ini mulai jadi cerita dan sampai ketelinga ibuku. Ia malah tertawa terbahak-bahak..

Satu lagi yang perlu kuceritakan lelaki yang sangat gigih ingin mendapatkan ibuku. Sobirin namanya. Pejuang satu ini termasuk yang tergigih. Cintanya tak lekang oleh zaman. Tapi, ia tak pernah sampai ke rumah ibuku. Setiap kali ia ingin main, ia hanya lewat saja dengan motornya sambil lehernya berputar mencari-cari di mana ibuku. Ibuku hanya tahu dari cerita tetangga sekitar.

Pejuang terakhir, ia adalah bos. Orang kaya di kecamatanku. Tapi, ia sudah punya istri, entah 2 atau mungkin 3. Ibuku sudah mendengar cerita orang itu. Dan ia mulai resah. Ia sangat takut. Gadis mana yang tak takut dijadikan istri ke-3 atau ke-4. Ia jadi teringat nenekku (ibu dari ibuku) sering memarahinya kalo ia makan di cowet. "Jangan makan di situ.. Lu mau kawin sama aki-aki?"
Mengingat itu ibuku mengernyitkan keningnya. "Aduh.. Gimana nih.. Ery nyesel bu.."
Lalu tiba-tiba ada yang mengentuk pintu.
Tok..tok..tok.. "assalamualaikum"
"waalaikumsalam, wi bukain pintu!" ibuku menyuruh Awi (kakak sepupuku-anak dari kakak ibukku-ia lahir jauh sebelum aku-ia belum masuk SD) untuk membukakan pintu. Awi pun bergegas membuka pintu. Dan di sana berdiri seorang lelaki berpakaian rapi dan harum.
"Eh, adik kecil, dimana kakek?" tanya lelaki itu.
"Kakek lagi sakit di kamar.." jawab Awi.
Tanpa basa basi lelaki itu langsung menuju kamar dan segera memegang tangan kakek, lalu menciumnya. " Pak kenalin, Elan, calon menantu.."
Kakek terperanjat. Ia cuma mengangguk tanpa mengatakan apa-apa. Mungkin karena lagi sakit kepalanya pusing, jadi tidak ingin bicara. Setelah itu lelaki itu keluar dari kamar dan menghampiri ibuku.
"Kenalin, Elan, Ery kan?" sambil menyalami ibuku.
"Iya.." ibuku menjawab dengan malas.
Dalam hati ibuku bicara sendiri. Siapa sih ni orang SKSD, gak level deh...
Dalam hati Elan bicara. Wah, ini calon istriku, aku rela mati demi mendapatkan dia, dan aku pasti mendapatkannya.
hahahaha..
tentu saja endingnya mereka menikah dan lahirlah aku..

-bakalan nyambung lagi-