Sabtu, 21 Januari 2012

Anggota ke-4

Malam itu aku terbangun karena suara bising di luar mengganggu tidurku. Tak ada siapa pun di tempat tidur selain aku, padahal seingatku aku tidur bersama ibu. Suara bising di luar membuatku ingin tahu. Lalu aku putuskan untuk melihat keluar. Saat aku turun dari tempat tidur, aku merasa ada yang aneh dengan lantai. Rupanya basah, ada air tergenang sampai ke luar kamar. Aku melangkah keluar dan kulihat ada sebuah ember tergeletak di depan pintu kamar. Terdengar suara ibu yang bicara setengah teriak, lalu suara ayah satu oktaf dibawah suara ibu. Aku mengeluarkan kepalaku untuk melihat yang terjadi. Terlihat ibu sedang marah-marah sambil menangis dan ayah sedang berusaha menjelaskan sesuatu. Pemandangan yangsering aku lihat. Tapi kali ini beda. Ibu tak bisa lagi dibujuk. Tiba-tiba ibu berteriak diikuti suara kayu yang menghantam lantai. Guprak!. Lalu sesuatu yang pecah. Meja tamu terjungkal asbak kaca dan pot bunga diatasnya hancur berserakan. Lalu ibu berlari keluar dan menghilang dalam gelapnya malam itu. Aku berlari ke arah pintu. Kudapati ayah berdiri sambil tertunduk tak kuasa menahan kepergian ibu.
"Mama.. mama.. mama.." aku berteriak memanggil ibu, berharap ia kembali setidaknya untuk mencium pipiku sebelum ia pergi.
"Eh ari bangun ya.." ayahku menyapaku seperti biasa.
"Mama.. kemana?"
"Mama lagi maen ke rumah nenek.. Ari tidur lagi ya.. Besok ari juga boleh maen ke rumah nenek" Ayah menggendongku, lalu membawaku ke tempat tidur. Sekilas kulihat rumah sangat acak-acakan. Seperti perahu yang habis diserang badai. Aku tak terlalu mengerti apa yang terjadi. Bagiku hal seperti ini biasa saja. Aku tertidur lagi.
Kejadian semalam rasanya seperti mimpi saja bagiku saat pagi tiba . Karena kulihat rumah tampak rapi, seperti tak pernah terjadi apa-apa. Tapi aku yakin bukan mimpi karena saat aku bangun kusaksikan ayah sedang sibuk menjemur pakaian. Dia pasti mencuci semua pakaian kotor yang ditinggal ibu. Ayah menyapaku seperti biasa. Ia menyiapkan sarapan dan kita bermain. Seperti biasa, walau aku masih kecil aku anak yang dapat menjadi teman yang baik dan banyak memberikan masukan. Tapi itu bukan berarti ayah lupa kejadian semalam. Ia tahu ada yang salah dengan keluarga ini. Pertengkaran semalam bukanlah yang pertama. Ia juga menyadari mungkin ia sendiri pemicu pertengkarannya. Ia selalu pulang malam. Ibuku bukan orang yang suka memberikan toleransi pada orang yang telat pulang malam. Maka dari itu setiap ayah pulang malam sudah selayaknya disambut dengan siraman air semeriah mungkin. Kemudian ayah meminta maaf dan ibu tak mau tahu. Ibu menangis dan ayah berusaha membujukknya. Kadang berhasil kadang juga tidak. Kalau sudah kalap ibu akan pergi kerumah nenek. Mungkin ibu memang penakut, tapi kemarahannya lebih besar dari rasa takutnya. Karena rasa marahnya itu ia berani berjalan melintasi 2 kampung dengan tanpa penerangan, cahaya hanya didapat dari bintang-bintang dan beberapa obor di depan rumah warga yang kebetulan baik hati mau menerangi jalan. Aku dijemput teh awi untuk main ke rumah nenek. Dan bila waktu sudah agak sore ayah akan datang ke rumah nenek, disanalah ibu dan ayah selalu mendapatkan ceramah dan kata-kata bijak. Sebanyak kata bijak yang nenek berikan kepada mereka sebanyak itu pula pertengkaran terjadi.

Ayah sangat mencintai ibu. Sampai aku lahir bahkan cintanya malah makin bertambah. Tetapi ternyata hidup itu bukan hanya cinta. Ayahku kerja serabutan. Tapi ia selalu berjanji pada ibu, walau dia tidak punya penghasilan tetap tetapi dia akan berusaha tetap berpenghasilan apapun yang terjadi. Pernah suatu hari ayahku kerja, entah jadi kuli bangunan, kuli angkut atau kuli mencangkul sawah orang ia sampai tidak bisa jalan dan pulang merangkak. Ayah yang memang dibesarkan dengan dimanja dan mendapat kasih sayang penuh dari kedua orang tuanya rela melakukan apa saja untuk makan keluarganya dan sekedar membayar kontrakan, Bukti lain cinta ayah kepada ibu. Ayah selalu memeluk dan mencium kening ibu sebelum bepergian, dan membiarkan ibuku masuk kerumah. Jadi lain dengan yang lain biasanya orang yang pergi diantarkan dengan lambaian tangan dari halaman rumah dan orang itu berlalu pergi, tapi ayahku tidak akan jadi pergi jika melihat ibuku masih melihat dia. Dia akan menyuruh ibu masuk ke rumah dan menunggu sampai ia kembali. Sepanjang jalan tak lupa ia titipkan ibuku kepada tetangga-tetangga, Bu titip ery, ceu titip ery, mbak titip eri, kek titip ery. Begitulah sepanjang jalan. Sepulang dari pekerjaannya dari kejauhan ia sudah berteriak memanggil nama ibu. "Ery..! Ery..!" kemudian memeluk dan mencium ibu. Walau yang ia dapatkan hanya siraman seember air ia tak pernah ambil pusing. Ia selalu menerima apapun perlakuan ibu terhadapnya. Senyumnya tetap seperti itu. Tak ada rasa benci atau dendam sedikit pun. Tapi itu justru yang membuat ibuku semakin marah. Ia merasa kemarahannya tidak mendapat tanggapan karena besok ia akan pulang telat lagi.

Dengan rumah tangga yang ancur-ancuran seperti itu (orang sunda bilang awet rajet) ayahku selalu jadi idola di lingkungan tempat ia tinggal atau bekerja. Karena selain kerja serabutannya, ia selalu meluangkan waktu dengan pemuda-pemuda untuk menggarap sebuah orkes kampung. Ia memang seniman yang cukup baik, boleh dibilang paling hebat seantero kecamatan palas itu. Orkesnya terkenal sampai pelosok-pelosok kampung. Tapi tidak diketahui di pelosok-pelosok kota. Ini yang membuat ayah pulang selalu telat. Suatu hari ibuku menangis lagi, sore itu ayah harus latihan orkes, ayah tidak mungkin pergi jika ibu sedang seperti itu. Ternyata ibuku ingin ikut ke tempat ayahku latihan, ia tak mau sendirian di rumah, aku kebetulan sedang main di rumah nenek mungkin sampai menginap. Akhirnya ayah membawa ibu ke tempat ia latihan. Dan di sana, orang-orang menyambut kedatangan ayah layaknya artis terkenal, seperti orang-orang menyambut Rhoma Irama. Ibuku terkejut melihat perlakuan mereka terhadap ayah. Dan yang lebih mengejutkan lagi mereka seperti yang sudah mengenal ibu.
"Wah Ery ikut lan?" tanya salah satu teman ayah.
"Wah berarti hari ini hari spsesial ya lan?" timpal yang lainnya.
"Iya nih, dia lagi ulang tahun" sambil tersenyum kepada ibu.
Mendengar perkataan ayah barusan ibu terkejut dan kontan teman-teman ayah satu persatu menyalaminya dan memberikan ucapan selamat serta doa. Ibu tersipu malu wajahnya kemerah-merahan. Ayah tersenyum bangga lalu kemudian ia bersama teman-temannya menyanyikan beberapa lagu layaknya dalam pesta ulang tahun seseorang.

Pulang ke rumah ibuku senang sekali. Ia diperlakukan dengan baik layaknya putri raja oleh teman-teman ayah. Setelah sampai di rumah ibu bertanya pada ayah dengan penuh rasa kagum.
"Abang inget ulang tahun Ery? Biasanya juga ga inget" Ayahku tersenyum bangga tapi aneh ia malah balik bertanya
"emang sekarang tanggal berapa sih ri abang juga ga tahu sekarang tanggal berapa" Ibuku tersentak seketika air mukanya berubah. Lalu ibuku melihat kalender
"sekarang tanggal 23 Oktober 1988, ulang tahun Ery kan tanggal 3 Juli" ibu menarik nafas lalu memandang ayah dengan sorot mata yang tajam, lalu "Abaaaangngngng..!" iya berteriak sekeras kerasnya lalu menangis sambil marah dan teriak-teriak. Prak, pruk, gubrak, gebruk... barang-barang mulai berjatuhan dan kursi-kursi melayang di udara lalu menghantam lantai sekeras-kerasnya. Ibuku mengamuk. Ayah seperti biasa, ia seperti penjinak banteng yang terus berputar-putar, menjelaskan maksudnya supaya ibu tidak marah-marah. Ahirnya ibu pulang lagi ke rumah nenek.

Tapi ternyata hidup tidaklah statis. Keadaannya terus berubah-ubah layangnya angin yang berhembus, tidak ada aliran yang laminer atau stasioner seperti yang di idealkan dalam fluida dinamis pada pelajaran fisika semester 2 kelas XI SMA, kebanyakan aliran angin itu turbulen (tidak beraturan) dan kerapatannya tidak merata. Banyak sekali pusaran tetapi ia terus berhembus menyongsong apa yang ada dihadapannya. Jika kita sudah mempunyai apa yang kita cita-citakan tidak akan seideal yang kita rencanakan, kadang kita bertemu pusaran dan berputar-putar di sana seakan tak bisa lepas, padahal jika dilihat dari kerangka acuan lain kita semakin dekat dengan tujuan kita.



Aku berusia 4 tahun dan aku terus merengek meminta seorang adik perempuan pada ibukku. Aku selalu main ke tetangga yang ada bayinya, sambil bercerita pada orang-orang kalau aku akan punya adik perempuan. Entah bagaimana awalnya, ibu pun mengandung. Hari-hariku penuh dengan keceriaan, kuceritakan hal ini pada teman-teman ku di taman kanak-kanak, pada tetangga-tetangga, pada siapa saja yang aku temui. Kebetulan aku agak SKSD, dengan orang yang baru kenal pun aku tidak canggung untuk mengobrol. Waktu main bersama teman-temanku pun aku selalu menambahkan tokoh adik perempuanku dalam permainan. Tiap malam aku dengarkan perut ibuku dan bertanya kapan ia akan lahir.

Entah bagimana aku bisa meyakini kalo adik dalam perut ibuku itu perempuan padahal tidak pernah USG. "Ari, adik kamu pasti lelaki, soalnya mama aktif banget, biasanya kalo aktif gitu berarti ngandung anak lelaki" celoteh ibu-ibu tetanggaku seolah menguji keyakinanku.
"Gak mungkin ade Ari pasti perempuan, liat aja nanti!" jawabku serius, cadel , sambil mulut termonyong-monyong dan mengerutkan kening tanda aku benar-benar kesal dan jengkel dengan pernyataan itu.

28 Oktober 1990 aku pulang bermain dengan teman-teman, tiba-tiba aku mendengar tangisan bayi dari arah rumah nenek dan itulah tangisan pertama adikku. Aku tidak boleh langsung lihat, setelah ia terbungkus oleh kain yang membungkus seluruh tubuhnya kecuali wajahnya barulah aku boleh menyapanya. "Ade perempuanku Ari lahir..Hore..!!!" langsung aku merangkul ingin menggendongnya, paraji memegang tanganku memisahkan aku dengan adikku.
"Eeit.. ari ngga boleh dulu ngegendong, belum bisa.." aku langsung menatap paraji itu kesal.
"Ari kenapa tau adiknya perempuan, kan belum ada yang tahu selain orang yang ada di rumah?" tanya paraji itu. Wajahku berubah gembira.
"Ari kan mau adik perempuan, ari minta sama Allah"
Semua orang disitu tertawa.

Karena aku tak boleh memegang adikku, aku lari keluar mencari ibu-ibu tetangga yang kemarin.
"Bi..bi.. ade ari dah lahir.. Perempuan..perempuan" aku berteriak-teriak di depan dia yang sedang mencuci pakaian. Ibu-ibu itu langsung membasuh tangannya dan menciumku.
"Anak pinter... mana bi Ros mau liat."

Anggota keluarga yang ke-4 ini diberi nama oleh kakak dari ibu yang aku panggil Wa Edi. Karena kakek sudah tidak ada jadi yang memberi nama anak tertua dari kelurga ibu. Sayang sekali kakek sudah tiada, dia hanya sempat memberi nama pada cucu pertamanya saja, yaitu aku. Nama anggota keluarga yang ke-4 ini Rara Ardita. Lalu pada umur 5 tahun ia mengganti namanya sendiri menjadi Resti Haryati pesiperwati, entah nama dari siapa itu atau mungkin dia mengarang sendiri karena dia memang pandai mengarang, dan setelah masuk sekolah namanya menjadi Mutiara Ardita tapi panggilan keluarga tetap Rara.

Selain ibuku, orang yang selalu aku bela adalah adikku ini. Apapun yang kumiliki adalah miliknya. Apapun miliknya kita bagi bersama. Ia pernah meminjam mobil-mobilanku lalu ia lempar sampai baterenya hilang dan rodanya copot, pistol-pistolaku juga tidak jauh beda. Aku tak pernah marah. Kehadirannya adalah pelita baru bagi keluargaku. Rembulan baru yang menerangi malam di gubuk kecil itu. Sejak saat itu keluarga kami jadi lebih hangat. Tidak ada lagi pertengkaran antara ayah dan ibu.

Suatu sore, ayahku baru pulang dari tempat kerjanya.
"Ry, kita pindah kontrakan besok"
"Apa??? pindah lagi!" jawab ibu jengkel.
Kita memang hidup berpindah-pindah selama lebih dari 5 tahun kurang lebih. Ayahku memang tak mau menyusahkan mertua dan orang tuanya. Walau hidup seadanya tetapi hasil dari tenaga sendiri.
"Abang dapet kerjaan dari anak ibu Iyut"
"Ibu Iyut?" ibuku agak terkejut mendengar nama itu.
"Iya kita disediakan tumpangan di sana. Ga perlu bayar"
"Kok ga perlu bayar?" tanya ibuku penasaran.
"Abang kan kerja sama anaknya, jadi biar lebih lancar diminta tinggal disana"
"Oo begitu.. Bang Ibu Iyut itu orang terkenal loh di palas ini"
"Terkenal gimana?"
"Dia salah satu tokoh yang disegani di palas, siapa pun pasti kenal dia"
"Masa sih?.. Begitu ya.. Abang kurang tahu ry."

Lalu esok harinya kita pindah. Dan kita tiba di rumah Ibu Iyut. Rumahnya sederhana tapi luas dan ibu Iyut tinggal sendiri. Lalu ayah mengobrol sebentar sambil memperkenalkan anggota keluarganya. Ibu iyut sangat tertarik oleh adikku, ibu Iyut bilang adikku lucu sekali. Ibu Iyut memang tak pernah punya cucu. Setelah itu ayah membawa kami ke rumah yang akan kami tinggali.
"Ini dia, kita akan tinggal di sini" sesampainya di depan sebuah gubuk. Ibuku tersentak melihat keadaan gubuk itu.
"Abang, kita ngontrak di sini?" ibu setengah tidak percaya.
"ini kan…?" ibu tak kuasa menyebutnya.
"kenapa? jelek?" ibuku hanya menatap ayah. Ayah tersenyum.
"Memang ini bekas kandang ayam.."
"Apa????" ibu tersentak kaget. "Pantesan..." ibu mengusap kedua matanya seolah memastikan apa yang ia lihat itu benar-benar tempat yang akan ia tinggali. Entah akan berapa lama ia tinggal di situ.
"Untuk beberpa bulan kita tinggal disini, itu kita tetanggaan sama ayam" Sambil menunjuk ke kandang ayam yang masih di pakai. Memang kandang ayam punya ibu Iyut bentuknya agak aneh, seperti gubuk dengan dinding geribik tanpa lantai. Ibu cuma bisa pasrah. Ibuku tak pernah protes diajak ketempat seperti apapun. Selama ayahku yang membawa. Ibuku selalu merasa aman selama ada ayah disampingnya.

Dari gubuk bekas kandang ayam itulah kehidupan kami mulai berubah. Gubuk itu kita tinggali tidak lebih dari tiga bulan. Rupanya ayah mencoba usaha di bidang penyediaan alat-alat berat untuk pembangunan jalan dan jembatan bersama beberapa temannya. Dalam jarak beberapa bulan ayahku sudah bisa membangun sebuah rumah dan memiliki kendaraan sendiri. Kehidupan kami benar-benar berubah. Cinta diantara kami berempat membuat cerita kebahagiaan ini semakin indah.

-0000000-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar