Sabtu, 21 Januari 2012

Cerita sebelum aku

Sebelum aku lahir, tentu ayah-bundaku dulu dong yang lahir tapi kelahiran mereka aku tak begitu faham, maka dari itu kita mulai dari saat pertemuan mereka saja. Pada saat itu aku masih berupa tanah yang mungkin masih mengendap di dasar sungai yang kemudian mengalir ke hilir dan tiba-tiba terhempas ke pesawahan. Kemudian para petani mengolahnya menjadi nutrisi untuk butiran-butiran padi yang kemudian dimakan oleh Bundaku.

Lampung Selatan, disanalah mereka pertama bertemu. Ayah (Elan) dan Bunda (Ery) punya latar belakang yang berbeda. Sangat berbeda. Ayahku lahir dari keluarga guru yang ramah dan bersahabat, sedangkan ibuku lahir dari teknisi yang terbilang galak atau mungkin sangat galak. Sehingga karakter mereka jauh berbeda. Ayahku lembut dan ibuku bisa dibilang galak. Tapi ini membuat kisah mereka sangat renyah untuk diceritakan. Kisah percintaan yang tak pernah terbayangkan.

Ayahku adalah seorang yang sangat idealis dalam urusan mencari nafkah. Ia adalah keukeuh ingin jadi seorang enterpreneur. Sedangkan orang tua, kakak dan saudara-saurdaranya menginginkan ia menjadi seorang PNS (Pegawai Negeri Sipil). Memang begitulah keadaan orang indonesia. Mungkin sampai saat ini. Jadi PNS adalah pilihan yang paling aman. Jadi PNS adalah jaminan bagi mereka untuk bisa bertahan hidup dan menafkahi anak istrinya. Kemudian mental seperti itu diterapkan kepada anak-anaknya bahkan cucu-cicitnya. Tapi ayahku... Orang yang keras kepala di mata keluarganya.

Ibuku, orang yang sudah sepantasnya aku rela mati demi membelanya dan aku rela mencium kakinya walau itu penuh dengan lumpur sekalipun. Ketika beliau sedang marah, aku tak rela pergi sebelum kulihat dia tersenyum dan memaafkan kesalahanku. Walau demikian, di masa mudanya ia hanya seorang gadis yang tidak lulus SD. Memang begitu. Tapi, dia adalah atlet volley ball yang bisa dibanggakan di desa Bandan Hurip, bahkan namanya santer disebut-sebut di kecamatan Palas. Manja tapi berwibawa. Memang begitu. Kekanak-kanakan tapi kata-katanya bijak. Memang begitu. Percaya aja deh... Pemalas, setidaknya itu yang dikatakan nenekku. Nenekku pernah berkata sambil mengosok-gosokan tembakau ke giginya "Mamah lo tu, waktu masih gadis, ga pernah mau belajar masak.. Alesannya Ery-kan bakal kawin ma lelaki kaya raya jadi nanti punya pembantu.. Gitu katanya." Ibuku cuma tersenyum mendengar cerita itu seakan mengiyakan.

Ibuku lahir dan besar di Jakarta, lalu pindah ke lampung karena nenekku sakit-sakitan dan butuh udara segar mengingat jakarta semakin lama malah semakin tak nyaman untuk ditinggali. Lampung bagi ibuku adalah kampung (bukan kota) yang nyaman untuk ditinggali, yang hingga saat ini jadi kampung tempat kita mudik lebaran. Kakekku adalah orang yang terpandang di kampung itu sehingga ibuku sangat disegani oleh bujang-bujang di dusun Waras Jaya desa Bandan Hurip kecamatan Palas, Lampung Selatan.

Sedangkan ayahku, orang yang mengikuti instingnya. Ia bercita-cita menikah dengan orang jakarta. Biasalah si Kabayan mencari cinta. Ia mengikuti jejak kakak iparnya, seorang jaksa kebetulan ditugaskan di Lampung. Ia mencari peluang usaha di Lampung. Aku juga tak habis pikir, kenapa ia tidak cari peluang usaha di Jakarta. Itulah jodoh. Di Lampung tentu saja ayahku menemukan cita-citanya menjadi enterpreneur. Tapi sebelum bertemu dengan ibuku, ia bekerja di mana saja, kadang jadi juru tulis, kadang jadi guru dan aku tak terlalu mengetahui riwayat pekerjaan ayahku tapi ia bahkan kenal dengan dosen UNILA (Universitas Negeri Lampung) satu-satunya universitas negeri di sana. Setidaknya itu yang diceritakan ibuku.

SDN 1 Bandan Hurip berhadap-hadapan dengan Puskesmas Palas. Tempat yang ramai didatangi oleh penduduk yang punya masalah dengan kesehatan. Ayahku, mengajar di SD itu. Ia adalah guru yang disukai oleh murid-muridnya terutama murid perempuan. Cerita ini, salah satu sumbernya adalah cerita dari murid-muridnya sewaktu mengajar di SD itu. Pada waktu istirahat Ayahku senang bermain dengan muridnya di halaman sekolah. Ia sangat senang bermain gitar dan bernyanyi, muridnya pun senang mendengar ia bernyanyi.

Suatu hari saat ayahku sedang bermain di halaman sekolah calon ibuku berjalan di dipan gerbang sekolah menuju puskesmas. Ia langsung terpana. Murid-muridnya rupanya memperhatikan gelagat gurunya itu dan segera mengerti. Salah satu muridnya berbisik kepadanya "Pak itu dia orang Jakarta itu, tinggalnya di dusun Waras Jaya, dekat Masjid Al-Hikmah". Ayahku tersenyum penuh arti dan melanjutkan nyanyiannya.

*******

Hujan turun gemericik, kupu-kupu terbang kian kemari menghindari butiran air hujan yang bertubi-tubi mencari arah menuju dedaunan tempat ia berteduh. Seperti ibuku di saat itu. Di akhir masa-masa remajanya. Dihujani ribuan pertanyaan. Dihujani ribuan tuntutan. Sudah 22 tahun usianya. Teman sebayanya sudah mempunyai suami bahkan ada yang sudah mempunyai anak. Masa itu, jelas itu kesalahan, setidaknya menurut budaya di kampung. Tapi tidak begitu bagi keluarga ibuku. Tak ada sedikit pun resah, apalagi ketakutan kalau kalau anaknya disebut gadis yang tak laku. Ibuku tersenyum di balik jendela kayu sambil mengikuti irama gemericik hujan dan menikmati tarian kupu-kupu di luar sana.

Tapi jangan salah, ibuku adalah gadis paling cantik di keluarga. Karena saudara-saudaranya memang lelaki semua. Dia juga gadis tercantik di dusun Waras Jaya RT1/RW1. Kalo ketemu orang-orang kampung pasti terkagum-kagum dan memujinya. Seorang nenek bahkan datang ke rumah hanya untuk bersalaman dengan gadis Jakarta ini. (Hahaha.. berlebihan ya.. memang begitu ceritanya.. jangan protes!). Perlu gambaran tidak kawan? Kalian penasaran gitu, yawdah aku gambarkan ya. Ery memiliki tinggi 165 cm, kulit putih kekuning-kuningan (atau lebih dekat kuning langsat), rambut hitam lurus dan tubuh atletis (secara atlet volley ball). Dalam jarak 100 m cowok jaman itu tak kan berkedip melihatnya berjalan. Tapi dari dekat, alis tipis, mata cokelat, hidung mungil dan sedikit bercak-bercak di pipi. Bercak-bercak itu bagai bercak-bercak pada sayap kupu-kupu, membuat keindahan yang belum pernah ditemukan saat itu. Habislah cowok-cowok itu. Kebanyakan dari mereka takkan mampu bicara didepan ibuku. Jika niat mereka untuk menyatakan cintanya.

Sebut saja Maman (aku lupa namanya), rumahnya dekat puskesmas. Jika ibuku pergi kepuskesmas ia pasti ribut. "Ada Ery.. Ada Ery.. Ada Ery.." Sambil masuk ke kamar dan mengintip di balik gorden jendela. Ketika ibuku lewat ia hanya berteriak di kamarnya. "Eryyyyy....!!!!". Tetangga depan rumahnya bilang pada ibuku. "Ry tuh si Maman suka sama kamu". Ibuku cuma tersenyum. Dan mungkin di dalam hatinya tertawa sambil berkata "Dasar cowok cemen..". Cinta Maman cuma menempel di dinding kamarnya, tak pernah ada sedikit pun keberanian untuk mengatakan langsung. Bahkan untuk berbicara dengan Ery pun sulit. Kalo berhadap-hadapan ia cuma bisa menatap ke bawah tak kuasa membalas tatapan ibuku yang tajam.

Ia biasa di sebut Pak Apar. Tak tahu aku nama aslinya. Pokoknya ia seorang guru PNS, yang sudah punya gaji tetap dan masa depannya sudah aman karena masa tuanya pun sudah dijamin oleh pemerintah. Bahkan kalo dia mati pun anak istrinya bakal tetap dapat makan. Setidaknya begitulah menurut dia. Sudah tua, 30 tahunan, mungkin lebih. Dan belum punya istri. Itu masalah. Dengan title Drs. yang ia punya tentu ia punya lebih banyak percaya diri dibandingkan cowok-cowok lain di kampungku. Oleh karena itu ia punya rencana untuk langsung saja melamar gadis yang ia sukai setengah mati ini. Dia adalah ibuku. Dia tahu, ibuku tidak akan pernah membantah pada bapaknya. Bukan karena ini cerita jaman dahulu. Tapi memang tidak ada yang bisa membantah peritah kakekku ini.

Kakekku, bermata cokelat juga dengan urat-urat merah di sekitar bola matanya, matanya selalu tampak menyala. Rambut di seluruh tubuhnya juga cokelat. Wajahnya penuh dengan rambut (kumis dan janggut), jika ia memelihara rambut itu, kira-kira gambarannya lihat saja Chuck Norris, aktor film-film cowboy itu-Cari aja deh di internet kalo ga tahu-Badannya tinggi besar dan kulitnya kuning kemerah-merahan. Katanya dulu ia bertato di sepanjang lengannya, bertuliskan JUPITER, dewa petir penguasa langit di mitologi Romawi. Itulah panggilan teman-teman pelautnya. Nama itu diberikan teman-temanya sebagai julukan. Julukan berdasarkan gambaran dari ciri-ciri fisik dan sifat kakekku. Tapi tato itu sudah hilang, ia sendiri yang membersihkannya dengan seterikaan.

Pak Apar sudah bulat tekadnya. Ia berdandan dengan rapi, memakai parfume, minyak tanco dan sisiran nyentrik ala Hitler. Senyumnya disiapkan untuk bertemu dengan calon mertua. Ia berakting didepan kaca. Senyum, gaya bicara, gaya berjalan, posisi duduk cara minum dan cara bersalaman dilatih secara intensif. Ia tanpa sadar hampir satu jam mempraktekan senyuman yang terbaik di depan cermin, ia baru sadar saat cermin itu retak. Ternyata, sudah saatnya berangkat. Keluar rumah, di depan pintu ia menghirup udara sore itu dengan riang. Dan segera melangkah dengan gagah, meraih sepeda ontelnya. Di kiri dan kanan mata orang-orang semua tertuju padanya. Pemilik kedai dan pelanggannya, tukang ikan yang baru selesai keliling menjual ikan, tukang sayuran yang menggendong bakul berisi sayuran dan makanan lain, pegawai desa yang baru pulang, semua memandan Pak Apar yang menungga sepeda sambil bersiul.

Sampai di Kampungku Pak Apar menitipkan sepedanya di temannya Mulyana biasa dipanggil Emul. Lalu ia minta ditemani berangkat ke rumah ibukku. "Kamu siap?" tanya temannya meyakinkan.
"Siap dong, aku Drs. masa ga siap" jawab Pak Apar.
"Ya sudah, kemon.."
Pak Apar dan temannya pergi ke rumah ibukku, yang benar itu rumah kakekku. Di serambi depan rumah, kakekku sedang membaca buku sambil menghisap cangklongnya. Keadaan itu membuat pak Apar jadi semakin semangat.
"Par, itu bapaknya".
"Bapaknya?.. Wah, biar aku yang ngomong duluan" Pekik pak Apar.
"Oke.."
Belum sempat pak Apar berkata, kakek yang menyadari kedatangan mereka malah bertanya lebih dulu. "Ada perlu apa?" Suara kakek memang agak keras, tapi ia tidak bermaksud mengagetkan orang. Lain maksud kakek lain pula efeknya buat pak Apar. Suara kakek begitu menggelegar di telinga pak Apar, seperti guntur pada musim hujan. Pak Apar cuma berdiri ternganga, ia tak menjawab. Emul dengan reflek mencubit tangan pak Apar. Pak Apar baru tersadar, tapi tetap diam.
"Kalian ini ada perlu apa?" kakek bertanya lagi. Kali ini sedikit lebih keras dengan nada jengkel. Ia merasa terganggu, sore itu kebetulan ia sedang membaca sebuah novel.
Emul mencubit pak Apar lagi, baru pak Apar bisa menjawab, walau sambil tergagap-gagap.
"Anu Pak, Pak Mail lagi baca buku ya?"
Emul memukul mukul kepalanya sendiri mendengar ucapan itu. Pak Apar pun sadar, betapa bodohnya pertanyaan itu. Ia ingin sekali menggali lubang lalu mengubur dirinya hidup-hidup.
Kakekku melepas cangklongnya lalu menatap kedua pemuda itu satu persatu.
"Iya.. Jadi kalian jangan ganggu.." Lalu kakek kembali membaca buku sambil memasukan cangklongnya kemulut lagi.
"Maaf, mengganggu pak Mail.. Mari.." Emul langsung berpamitan.
Emul dan pak Apar berjalan cepat-cepat. Ia malah bertamu ke tetangga rumah. Kebetulan rumah di kampung masih jarang jadi jaraknya sekitar 50 meter dari rumah kakek. Disana lah kisah ini mulai jadi cerita dan sampai ketelinga ibuku. Ia malah tertawa terbahak-bahak..

Satu lagi yang perlu kuceritakan lelaki yang sangat gigih ingin mendapatkan ibuku. Sobirin namanya. Pejuang satu ini termasuk yang tergigih. Cintanya tak lekang oleh zaman. Tapi, ia tak pernah sampai ke rumah ibuku. Setiap kali ia ingin main, ia hanya lewat saja dengan motornya sambil lehernya berputar mencari-cari di mana ibuku. Ibuku hanya tahu dari cerita tetangga sekitar.

Pejuang terakhir, ia adalah bos. Orang kaya di kecamatanku. Tapi, ia sudah punya istri, entah 2 atau mungkin 3. Ibuku sudah mendengar cerita orang itu. Dan ia mulai resah. Ia sangat takut. Gadis mana yang tak takut dijadikan istri ke-3 atau ke-4. Ia jadi teringat nenekku (ibu dari ibuku) sering memarahinya kalo ia makan di cowet. "Jangan makan di situ.. Lu mau kawin sama aki-aki?"
Mengingat itu ibuku mengernyitkan keningnya. "Aduh.. Gimana nih.. Ery nyesel bu.."
Lalu tiba-tiba ada yang mengentuk pintu.
Tok..tok..tok.. "assalamualaikum"
"waalaikumsalam, wi bukain pintu!" ibuku menyuruh Awi (kakak sepupuku-anak dari kakak ibukku-ia lahir jauh sebelum aku-ia belum masuk SD) untuk membukakan pintu. Awi pun bergegas membuka pintu. Dan di sana berdiri seorang lelaki berpakaian rapi dan harum.
"Eh, adik kecil, dimana kakek?" tanya lelaki itu.
"Kakek lagi sakit di kamar.." jawab Awi.
Tanpa basa basi lelaki itu langsung menuju kamar dan segera memegang tangan kakek, lalu menciumnya. " Pak kenalin, Elan, calon menantu.."
Kakek terperanjat. Ia cuma mengangguk tanpa mengatakan apa-apa. Mungkin karena lagi sakit kepalanya pusing, jadi tidak ingin bicara. Setelah itu lelaki itu keluar dari kamar dan menghampiri ibuku.
"Kenalin, Elan, Ery kan?" sambil menyalami ibuku.
"Iya.." ibuku menjawab dengan malas.
Dalam hati ibuku bicara sendiri. Siapa sih ni orang SKSD, gak level deh...
Dalam hati Elan bicara. Wah, ini calon istriku, aku rela mati demi mendapatkan dia, dan aku pasti mendapatkannya.
hahahaha..
tentu saja endingnya mereka menikah dan lahirlah aku..

-bakalan nyambung lagi-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar