Senin, 30 April 2018

Ustadz Damri 2


Oke brother and sister.. Let's get this on..
Aku merenungi.. benar juga.. kebetulan aku melewati salah satu rumah sakit terbesar di bandung.. di sebrang jalan kulihat orang gila hampir telanjang sedang menatap langit. Mulutnya komat-kamit dan sebentar-sebetar tertawa-tawa kecil. Bukan masalah baginya harga BBM naik, bukan masalah bagi mereka anggota DPR korupsi, bukan masalah bagi mereka berpakaian atau tak berpakaian -- malah orang-orang disekitarnya yang sibuk mencarikannya baju--, apapun yang terjadi pada mereka bukan masalah bagi mereka, tidak ada yang harus diselesaikan.

Penumpang hampir semua mendapatkan kursi, kecuali seorang lelaki yang berdiri dibagian tengah bus ia nampak asyik medengarkan musik dari earphone ditelinganya. Ustadz makin terdengar jelas "Masalah itu adalah tanda bahwa Allah SWT masih memperhatikan kita. Orang itu diberikan masalah mulai dari skala yang kecil sampai yang besar.. berbanggalah orang yang mendapat masalah besar.. Maka dari itu jangan sekali-kali berdoa minta dihilangkan masalah.. Salah-salah kalau dikabulkan kita jadi orang gila tadi..".. beberapa penumpang tersenyum. Tak terasa aku pun mulai menyimak pembicaraan lelaki itu. Aku setuju. Baru menyadari masalah itu bentuk kasih sayang tuhan, optimisme pun mulai menyeruak. Tapi apa solusinya?

"Kuncinya cuma SABAR" kata ustadz penuh penekanan sambil tangannya didekatkan ke dadanya. "DAN JANGAN MEMBATASI SABAR karena Tuhan berjanji akan memberikan pahala tanpa batas hanya dengan sabar".. "Sabar bukan diam dan menerima semua yang menimpa kita.. tapi sabar itu tak kenal putus asa untuk selalu berusaha melakukan yang terbaik.."
Dalam surat Alam Nashrah Allah berfirman Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap
Allah SWT telah menjelaskan bahwa sesungguhnya dalam kesulitan itu ada kemudahan dengan dua kali berturut-turut, begitu penuh penekanan. Bagaimana kita bisa melihat kemudahan itu.. lakukanlah dengan sungguh-sungguh..

Mendengar ayat itu aku jadi tersentak.. Aku sungguh sudah menunda-nunda berbagai macam urusan dan akhirnya aku sampai terpuruk seperti ini. Lalu kemudian untaian kata-kata lelaki ini berubah menjadi ribuan panah es yang menghujam dadaku, sakit tapi ada kesejukan bersamanya.

Apa yang sudah kuperbuat selama ini. Aku menyiakan waktu. Menyiakan biaya. Aku tidak sungguh-sungguh dalam mengerjakan semuanya. Tidak ada orang yang berhasil dengan cara yang mudah. Ada yang sekolah sambil jualan. Ada yang berusaha keras hingga mendapat beasiswa dan menyelesaikan studi dengan sempurna. Ada yang jadi pembisnis besar padahal awalnya cuma loper koran. Mereka semua manusia seperti aku, hanya saja mereka melakukan semuanya dengan sungguh-sungguh.

Lelaki itu menutup ceramahnya dengan salam. "Wassalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh...". Sebagian orang menjawab, lalu kemudian lelaki itu bershalawat sambil membawa wadah, dan para penumpang yang membawa uang lebih mengisi wadah tersebut, termasuk lelaki yang berdiri tadi, dan tak kukira ia memasukan uang yang lumayan besar aku melihatnya sekilas. Aku cuma tersipu, karena ongkosku memang pas-pasan..

-----------

Hujan tak kunjung reda, malah semakin deras. Aku tak membawa payung. Aku masukan handphone kedalam kantong plastik dan setelah turun dari angkot aku langsung mengarungi hujan. Memang rumah agak jauh dari jalan, sekitar 300 meter. Aku memutuskan untuk berjalan menembus hujan. Sejuk badanku.. sejuk pula hatiku.. Yang akan kulakukan sesampainya di rumah adalah mencium tangan ibuku dan meminta maaf.. selanjutnya aku berjanji akan memperbaiki semuanya dengan sungguh-sungguh. Aku menyadari semua bermula dari diriku sendiri aku belum lulus-lulus, kenapa pula aku harus menyalahkan dosen, pekerjaan, waktu bahkan bus Damri non-AC.. THANKS USTADZ DAMRI lain kali aku akan mengisi kotak amal itu..agar kamu bisa terus memberi kesejukan pada orang-orang dalam bus kota yang panas dan pengap itu..

Ustadz Damri


Suatu hari aku pulang dari kampus dalam keadaan depresi. Apalagi yang membuat seorang mahasiswa depresi kalau bukan diputusin pacar atau ditinggal kawin, tidak punya duit buat bayar SPP, tidak lulus mata kuliah tertentu, paling parah tidak lulus-lulus dan selalu bermasalah dengan dosen. Hujan gerimis aku tembus. Biarlah. Mungkin dapat sedikit mendinginkan isi otakku yang kian mendidih. Handphone berdering tak kuacuhkan, ku sambar sekali mati. Aku tak ingin bicara dengan siapa pun. Apa lagi masalah pekerjaan. Hidupku penuh dilema akhir-akhir ini. Aku bekerja dan kuliah terbengkalai, aku kuliah dan SPP terbengkalai. Aku benci menebalkan muka untuk meminta bantuan pada paman dan bibiku, sudah cukup aku merepotkan mereka. Ibuku tercinta sudah tidak sanggup lagi, pabrik tempat dia sudah sepi orderan. Disinilah semua masalah bertemu, masalah yang kubuat sendiri, masalah keluarga dan masalah akademik. Aku menengadahkan wajah menantang hujan yang lebih besar menyirami tubuhku yang juga dalam suhu tinggi. Asap pun mengepul, bagai bara yang disiram air, terdengar bunyi "jessss...". segar.

Aku berdiri dipinggiran jalan menunggu bus yang akan mengantarkanku pulang. Aku berharap bus AC yang lewat dan disana tersisa satu tempat kosong dan disana sudah duduk seorang gadis cantik yang senyumnya menenangkan hati. Pastilah semua beban-beban itu akan terasa ringan. Dua , tiga, bus lewat, bukan AC, cuma damri ekonomi, aku tidak naik. Dan kemudian diikuti bus AC yang penuh, kemudian bus AC berikutnya penuh, dan penuh, kemudian penuh lagi dan seterusnya penuh. Sial. Sudah hilang kesabaranku menunggu. Sebuah damri lewat dengan penumpang berdesakan. Sudahlah, apa boleh buat naik saja, biarlah berdiri, biarlah pengap, biarlah bau keringat, biarlah.

Langit masih kelam, sudah hampir setengah jam aku berdiri dan akhirnya ada tempat yang kosong tepat di depanku. Tapi aku kulihat seorang perempuan paruh baya yang berdiri melihat tempat itu lalu kemudian menatapku. Aku tak akan tega melihat seorang wanita berdiri, sementara aku enak enak duduk. Apalagi mungkin dia seorang ibu. Biarlah aku berdiri sampai terminal. Tapi tak berapa lama aku dapat tempat duduk juga. Disamping jendela aku merenungi semua yang telah terjadi selama ini, asal muasalku hingga sampai duduk di dalam damri ini. Jika aku gagal dalam menyelsaikan masalah ini kubayangkan betapa kecewanya ibuku, adikku, nenekku, paman-bibiku, sahabat-sahabatku dan semua warga waras jaya desa mekar mulya. Mau jadi apa aku ini.

Tiba-tiba terdengar.. "Assalamualaikum warrahmatullahi wabarokatuh..."...
Seseorang dengan peci putih dan wajah bersahaja berdiri dihadapan penumpang bus damri layaknya pengamen. Orang tetap pada keadaanya, ada yang tetap tidur, ada yang tetap main HP ada juga yang tetap memandang keluar, sebagian besar tak acuh, hanya beberapa yang menjawab salam. Aku termasuk yang menjawab salam, tapi aku tak terlalu menganggapnya, mataku terus melihat-lihat keluar jendela sambil merasakan angin yang berhembus dari selah kaca mobil.

Lalu pria itu mulai menyapa penumpang yang ada, mulai dari supir-kernet, sampai sepasang kekasih yang sedang asyik mengobrol, tak lupa pula ia menyapa pria yang sedang melamun dengan mata tertuju keluar bus dan pikiran entah dimana. Pria itu pun sedikit terkejut dan mengerutkan keningnya. Menarik, lelaki ini kemudian membicarakan bahwa setiap orang hidup pasti akan diberikan masalah oleh tuhan kecuali satu jenis orang. Orang apakah itu? "ORANG GILA" katanya sambil tersenyum.

Abu Sufyan bin Harist, Habis Gelap Terbitlah Terang

Terinspirasi dengan kisah Abu Sufyan. Tidak ada kata terlambat untuk bertaubat, selama kita masih diberikan hidup, artinya kita masih diberikan kesempatan untuk kembali ke jalan-Nya. Sayang sekali bila cerita ini terlewatkan bergitu saja. Semoga kita bisa mengambil ibroh dari sepenggal cerita berikut.

oleh abufaiz97

Ia
 adalah Abu Sufyan bin Harits, dan bukan Abu Sufyan bin Harb ayah Mu'awiyah. Kisahnya merupakan kisah kebenaran setelah kesesatan, sayang setelah benci dan bahagia setelah celaka .... Yaitu kisah tentang rahmat Allah yang pintu-pintu-nya terbuka lebar, demi seorang hamba menjatuhkan diri diharibaan-Nya, setelah penderitaan yang berlarut-larut ... !

Bayangkan, waktu tidak kurang dari 20 tahun yang dilalui Ibnul Harits dalam kesesatan memusuhi dan memerangi Islam ... ! Waktu 20 tahun, yakni semenjak dibangkitkan-Nya Nabi saw. sampai dekat hari pembebasan Mekah yang terkenal itu. Selama itu Abu Sufyan menjadi tulang punggung Quraisy dan sekutu-sekutunya, menggubah syair-syair untuk menjelekkan serta menjatuhkan Nabi, juga selalu mengambil bagian dalam peperangan yang dilancarkan terhadap Islam.

Saudaranya ada tiga orang, yaitu Naufal, Rabi'ah dan Abdullah, semuanya telah lebih dulu masuk Islam. Dan Abu Sufyan ini adalah saudara sepupu Nabi, yaitu putera dari pamannya, Harits bin Abdul Mutthalib. Di samping itu ia juga saudara sesusu dari Nabi karena selain beberapa hari disusukan oleh ibu susu Nabi, Halimatus Sa'diyah.

Pada suatu hari nasib mujurnya membawanya kepada peruntungan membahagiakan. Dipanggilnya puteranya Ja'far dan dikatakannya kepada keluarganya bahwa mereka akan bepergian. Dan waktu ditanyakan ke mana tujuannya, jawabnya ialah:
"Kepada Rasulullah, untuk menyerahkan diri bersama beliau kepada Allah Robbul'alamin .. . !"
Demikianlah ia melakukan perjalanan dengan mengendarai kuda, dibawa oleh hati yang insaf dan sadar ....

Di Abwa' kelihatan olehnya barisan depan dari suatu pasukan besar. Maklumlah ia bahwa itu adalah tentara Islam yang menuju Mekah dengan maksud hendak membebaskannya. Ia bingung memikirkan apa yang hendak dilakukannya. Disebabkan sekian lamanya ia menghunus pedang memerangi Islam dan menggunakan lisannya untuk menjatuhkannya, mungkin Rasulullah telah menghalalkan darahnya, hingga ia bila tertangkap oleh salah seorang Muslimin, ia langsung akan menerima hukuman qishas. Maka ia harus mencari akal bagaimana caranya lebih dulu menemui Nabi sebelum jatuh ke tangan orang lain.

Abu Sufyan pun menyamar dan menyembunyikan identitas dirinya. Dengan memegang tangan puteranya Ja'far, ia berjalan kaki beberapa jauhnya, hingga akhirnya tampaklah olehnya Rasulullah bersama serombongan shahabat, maka ia menyingkir sampai rombongan itu berhenti. Tiba-tiba sambil membuka tutup mukanya, Abu Sufyan menjatuhkan dirinya di hadapan Rasulullah. Beliau memalingkan muka daripadanya, maka Abu Sufyan mendatanginya dari arah lain, tetapi Rasulullah masih menghindarkan diri daripadanya.

Dengan serempak Abu Sufyan bersama puteranya berseru:
"Asyhadu alla ilaha illallah. Wa-asyhadu anna Muhammadar Rasulullah . Lalu ia menghampiri Nabi saw. seraya katanya: "Tiada dendam dan tiada penyesalan, wahai Rasulullah".

Rasulullah pun menjawab:
"Tiada dendam dan tiada penyesalan, wahai Abu Sufyan!"

Kemudian Nabi menyerahkannya kepada Ali bin Abi Thalib, katanya: -- "Ajarkanlah kepada saudara sepupumu ini cara berwudlu dan sunnah, kemudian bawa lagi ke sini".

Ali membawanya pergi, dan kemudian kembali. Maka kata Rasulullah: "Umumkanlah kepada orang-orang bahwa Rasulullah telah ridla kepada Abu Sufyan, dan mereka pun hendaklah ridla pula…!"

Demikianlah hanya sekejap saat…! Rasulullah bersabda:
"Hendaklah kamu menggunakan masa yang penuh berkah…!" Maka tergulunglah sudah masa-masa yang penuh kesesatan dan kesengsaraan, dan terbukalah pintu rahmat yang tiada terbatas....

Abu Sufyan sebetulnya hampir saja masuk Islam ketika melihat sesuatu yang mengherankan hatinya ketika perang Badar, yakni sewaktu ia berperang di pihak Quraisy. Dalam peperangan itu, Abu Lahab tidak ikut serta, dan mengirimkan 'Ash bin Hisyam sebagai gantinya. Dengan hati yang harap-harap cemas, ia menunggu-nunggu berita pertempuran, yang mulai berdatangan menyampaikan kekalahan pahit bagi pihak Quraisy.

Pada suatu hari, ketika Abu Lahab sedang duduk dekat sumur Zamzam bersama beberapa orang Quraisy, tiba-tiba kelihatan oleh mereka seorang berkuda datang menghampiri. Setelah dekat, ternyata bahwa ia adalah Abu Sufyan bin Harits.

Tanpa bertangguh Abu Lahab memanggilnya, katanya: - "Mari ke sini hai keponakanku! Pasti kamu membawa berita! Nah, ceritakanlah kepada kami bagaimana kabar di sana …!"

Ujar Abu Sufyan bin Harits: - "Demi Allah! Tiada berita, kecuali bahwa kami menemui suatu kaum yang kepada mereka kami serahkan leher-leher kami, hingga mereka sembelih sesuka hati mereka dan mereka tawan kami semau mereka ...! Dan Demi Allah! Aku tak dapat menyalahkan orang-orang Quraisy Kami berhadapan dengan orang-orang serba putih mengendarai kuda hitam belang putih, menyerbu dari antara langit dan bumi, tidak serupa dengan suatu pun dan tidak terhalang oleh suatu pun…!"

-- yang dimaksud Abu Sufyan dengan mereka ini ialah para malaikat yang ikut bertempur di samping Kaum Muslimin -

Menjadi suatu pertanyaan bagi kita, kenapa ia tidak beriman ketika itu, padahal ia telah menyaksikan apa yang telah disaksikannya?

Jawabannya ialah bahwa keraguan itu merupakan jalan kepada keyakinan. Dan betapa kuatnya keraguan Abu Sufyan bin Harits, demikianlah pula keyakinannya sedemikian kukuh dan kuat jika suatu ketika ia datang nanti .... Nah, saat petunjuk dan keyakinan itu telah tiba, dan sebagai kita lihat, ia Islam, menyerahkan dirinya kepada Tuhan Robbul'alamin ... !

Mulai dari detik-detik keislamannya, Abu Sufyan mengejar dan menghabiskan waktunya dalam beribadat dan berjihad, untuk menghapus bekas-bekas masa lain dan mengejar ketinggalannya selama ini....

Dalam peperangan-peperangan yang terjadi setelah pempembebasan Mekah ia selalu ikut bersama Rasulu!lah. Dan di waktu perang Hunain orang-orang musyrik memasang perangkapnya dan menyiapkan satu pasukan tersembunyi, dan dengan tidak diduga-duga menyerbu Kaum Muslimin hingga barisan mereka porak poranda.

Sebagian besar tentara Islam cerai berai melarikan diri, tetapi Rasulullah tiada beranjak dari kedudukannya, hanya

berseru: "Hai manusia ... ! Saya ini Nabi dan tidak dusta... ! Saya adalah putra Abdul Mutthalib ... !"

Maka pada saat-saat yang maha genting itu, masih ada beberapa gelintir shahabat yang tidak kehilangan akal disebabkan serangan yang tiba-tiba itu. Dan di antara mereka terdapat Abu Sufyan bin Harits dan puteranya Ja'far.

Waktu itu Abu Sufyan sedang memegang kekang kuda Rasulullah. Dan ketika dilihatnya apa yang terjadi, yakinlah ia bahwa kesempatan yang dinanti-nantinya selama ini, yaitu berjuang fi sabilillah sampai menemui syahid dan di hadapan Rasulullah, telah terbuka. Maka sambil tak lepas memegang tali kekang dengan tangan kirinya, ia menebas batang leher musuh dengan tangan kanannya.

Dalam pada itu Kaum Muslimin telah kembali ke medan pertempuran sekeliling Nabi mereka, dan akhirnya Allah memberi mereka kemenangan mutlak.

Tatkala suasana sudah mulai tenang, Rasulullah melihat berkeliling .... Kiranya didapatinya seorang Mu'min sedang memegang erat-erat tall kekangnya. Sungguh rupanya semenjak berkecamuknya peperangan sampai selesai, orang itu tetap berada di tempat itu dan tak pernah meninggalkannya.

Rasulullah menatapnya lama-lama, lalu tanyanya: "Siapa ini ... ? Oh, saudaraku, Abu Sufyan bin Harits... !" Dan demi didengarnya Rasulullah mengatakan "saudaraku", hatinya bagaikan terbang karena bahagia dan gembira. Maka diratapinya kedua kaki Rasulullah, diciuminya dan dicucinya dengan air matanya ....

Ketika itu bangkitlah jiwa penyairnya, maka digubahnya pantun menyatakan kegembiraan atas keberanian dan taufik yang telah dikaruniakan Allah kepadanya: -

"Warga Ka'ab dan 'Amir sama mengetahui
Di pagi hari Hunain ketika barisan telah cerai berai
Bahwa aku adalah seorang ksatria berani mati
Menejuni api peperangan tak pernah nyali
Semata mengharapkan keridla;in Ilahi
Yang Maha Asih dan kepada-Nya sekalian urusan akan kembali".

Abu Sufyan menghadapkan dirinya sepenuhnya kepada ibadat. Dan sepeninggal Rasulullah saw. ruhnya mendambakan kematian agar dapat menemui Rasulullah di kampung akhirat. Demikianlah walaupun nafasnya masih turun naik, tetapi kematiantetap menjadi tumpuan hidupnya... !

Pada suatu hari, orang melihatnya berada di Baqi' sedang menggali lahad, menyiapkan dan mendatarkannya. Tatkala orang-orang menunjukkan keheranan mereka, maka katanya:

"Aku sedang menyiapkan kuburku ....".

Dan setelah tiga hari berlalu, tidak lebih, ia terbaring dirumahnya sementara keluarganya berada di sekelilingnya dan sama menangis. Dengan hati puas dan tenteram dibukanya matanya melihat mereka, lalu katanya: -- "Janganlah daku ditangisi, karena semenjak masuk Islam tidak sedikit pun daku berlumur dosa...!"

Dan sebelum kepalanya terkulai di atas dadanya, diangkatkannya sedikit keatas seolah-olah hendak menyampaikan selamat tinggal kepada dunia fana ini ...

Sekian, semoga bermanfaat.