Oke brother and sister.. Let's get this on..
Aku merenungi.. benar juga.. kebetulan aku melewati salah satu rumah sakit terbesar di bandung.. di sebrang jalan kulihat orang gila hampir telanjang sedang menatap langit. Mulutnya komat-kamit dan sebentar-sebetar tertawa-tawa kecil. Bukan masalah baginya harga BBM naik, bukan masalah bagi mereka anggota DPR korupsi, bukan masalah bagi mereka berpakaian atau tak berpakaian -- malah orang-orang disekitarnya yang sibuk mencarikannya baju--, apapun yang terjadi pada mereka bukan masalah bagi mereka, tidak ada yang harus diselesaikan.
Penumpang hampir semua mendapatkan kursi, kecuali seorang lelaki yang berdiri dibagian tengah bus ia nampak asyik medengarkan musik dari earphone ditelinganya. Ustadz makin terdengar jelas "Masalah itu adalah tanda bahwa Allah SWT masih memperhatikan kita. Orang itu diberikan masalah mulai dari skala yang kecil sampai yang besar.. berbanggalah orang yang mendapat masalah besar.. Maka dari itu jangan sekali-kali berdoa minta dihilangkan masalah.. Salah-salah kalau dikabulkan kita jadi orang gila tadi..".. beberapa penumpang tersenyum. Tak terasa aku pun mulai menyimak pembicaraan lelaki itu. Aku setuju. Baru menyadari masalah itu bentuk kasih sayang tuhan, optimisme pun mulai menyeruak. Tapi apa solusinya?
"Kuncinya cuma SABAR" kata ustadz penuh penekanan sambil tangannya didekatkan ke dadanya. "DAN JANGAN MEMBATASI SABAR karena Tuhan berjanji akan memberikan pahala tanpa batas hanya dengan sabar".. "Sabar bukan diam dan menerima semua yang menimpa kita.. tapi sabar itu tak kenal putus asa untuk selalu berusaha melakukan yang terbaik.."
Dalam surat Alam Nashrah Allah berfirman Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap
Allah SWT telah menjelaskan bahwa sesungguhnya dalam kesulitan itu ada kemudahan dengan dua kali berturut-turut, begitu penuh penekanan. Bagaimana kita bisa melihat kemudahan itu.. lakukanlah dengan sungguh-sungguh..
Mendengar ayat itu aku jadi tersentak.. Aku sungguh sudah menunda-nunda berbagai macam urusan dan akhirnya aku sampai terpuruk seperti ini. Lalu kemudian untaian kata-kata lelaki ini berubah menjadi ribuan panah es yang menghujam dadaku, sakit tapi ada kesejukan bersamanya.
Apa yang sudah kuperbuat selama ini. Aku menyiakan waktu. Menyiakan biaya. Aku tidak sungguh-sungguh dalam mengerjakan semuanya. Tidak ada orang yang berhasil dengan cara yang mudah. Ada yang sekolah sambil jualan. Ada yang berusaha keras hingga mendapat beasiswa dan menyelesaikan studi dengan sempurna. Ada yang jadi pembisnis besar padahal awalnya cuma loper koran. Mereka semua manusia seperti aku, hanya saja mereka melakukan semuanya dengan sungguh-sungguh.
Lelaki itu menutup ceramahnya dengan salam. "Wassalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh...". Sebagian orang menjawab, lalu kemudian lelaki itu bershalawat sambil membawa wadah, dan para penumpang yang membawa uang lebih mengisi wadah tersebut, termasuk lelaki yang berdiri tadi, dan tak kukira ia memasukan uang yang lumayan besar aku melihatnya sekilas. Aku cuma tersipu, karena ongkosku memang pas-pasan..
-----------
Hujan tak kunjung reda, malah semakin deras. Aku tak membawa payung. Aku masukan handphone kedalam kantong plastik dan setelah turun dari angkot aku langsung mengarungi hujan. Memang rumah agak jauh dari jalan, sekitar 300 meter. Aku memutuskan untuk berjalan menembus hujan. Sejuk badanku.. sejuk pula hatiku.. Yang akan kulakukan sesampainya di rumah adalah mencium tangan ibuku dan meminta maaf.. selanjutnya aku berjanji akan memperbaiki semuanya dengan sungguh-sungguh. Aku menyadari semua bermula dari diriku sendiri aku belum lulus-lulus, kenapa pula aku harus menyalahkan dosen, pekerjaan, waktu bahkan bus Damri non-AC.. THANKS USTADZ DAMRI lain kali aku akan mengisi kotak amal itu..agar kamu bisa terus memberi kesejukan pada orang-orang dalam bus kota yang panas dan pengap itu..
Aku merenungi.. benar juga.. kebetulan aku melewati salah satu rumah sakit terbesar di bandung.. di sebrang jalan kulihat orang gila hampir telanjang sedang menatap langit. Mulutnya komat-kamit dan sebentar-sebetar tertawa-tawa kecil. Bukan masalah baginya harga BBM naik, bukan masalah bagi mereka anggota DPR korupsi, bukan masalah bagi mereka berpakaian atau tak berpakaian -- malah orang-orang disekitarnya yang sibuk mencarikannya baju--, apapun yang terjadi pada mereka bukan masalah bagi mereka, tidak ada yang harus diselesaikan.
Penumpang hampir semua mendapatkan kursi, kecuali seorang lelaki yang berdiri dibagian tengah bus ia nampak asyik medengarkan musik dari earphone ditelinganya. Ustadz makin terdengar jelas "Masalah itu adalah tanda bahwa Allah SWT masih memperhatikan kita. Orang itu diberikan masalah mulai dari skala yang kecil sampai yang besar.. berbanggalah orang yang mendapat masalah besar.. Maka dari itu jangan sekali-kali berdoa minta dihilangkan masalah.. Salah-salah kalau dikabulkan kita jadi orang gila tadi..".. beberapa penumpang tersenyum. Tak terasa aku pun mulai menyimak pembicaraan lelaki itu. Aku setuju. Baru menyadari masalah itu bentuk kasih sayang tuhan, optimisme pun mulai menyeruak. Tapi apa solusinya?
"Kuncinya cuma SABAR" kata ustadz penuh penekanan sambil tangannya didekatkan ke dadanya. "DAN JANGAN MEMBATASI SABAR karena Tuhan berjanji akan memberikan pahala tanpa batas hanya dengan sabar".. "Sabar bukan diam dan menerima semua yang menimpa kita.. tapi sabar itu tak kenal putus asa untuk selalu berusaha melakukan yang terbaik.."
Dalam surat Alam Nashrah Allah berfirman Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap
Allah SWT telah menjelaskan bahwa sesungguhnya dalam kesulitan itu ada kemudahan dengan dua kali berturut-turut, begitu penuh penekanan. Bagaimana kita bisa melihat kemudahan itu.. lakukanlah dengan sungguh-sungguh..
Mendengar ayat itu aku jadi tersentak.. Aku sungguh sudah menunda-nunda berbagai macam urusan dan akhirnya aku sampai terpuruk seperti ini. Lalu kemudian untaian kata-kata lelaki ini berubah menjadi ribuan panah es yang menghujam dadaku, sakit tapi ada kesejukan bersamanya.
Apa yang sudah kuperbuat selama ini. Aku menyiakan waktu. Menyiakan biaya. Aku tidak sungguh-sungguh dalam mengerjakan semuanya. Tidak ada orang yang berhasil dengan cara yang mudah. Ada yang sekolah sambil jualan. Ada yang berusaha keras hingga mendapat beasiswa dan menyelesaikan studi dengan sempurna. Ada yang jadi pembisnis besar padahal awalnya cuma loper koran. Mereka semua manusia seperti aku, hanya saja mereka melakukan semuanya dengan sungguh-sungguh.
Lelaki itu menutup ceramahnya dengan salam. "Wassalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh...". Sebagian orang menjawab, lalu kemudian lelaki itu bershalawat sambil membawa wadah, dan para penumpang yang membawa uang lebih mengisi wadah tersebut, termasuk lelaki yang berdiri tadi, dan tak kukira ia memasukan uang yang lumayan besar aku melihatnya sekilas. Aku cuma tersipu, karena ongkosku memang pas-pasan..
-----------
Hujan tak kunjung reda, malah semakin deras. Aku tak membawa payung. Aku masukan handphone kedalam kantong plastik dan setelah turun dari angkot aku langsung mengarungi hujan. Memang rumah agak jauh dari jalan, sekitar 300 meter. Aku memutuskan untuk berjalan menembus hujan. Sejuk badanku.. sejuk pula hatiku.. Yang akan kulakukan sesampainya di rumah adalah mencium tangan ibuku dan meminta maaf.. selanjutnya aku berjanji akan memperbaiki semuanya dengan sungguh-sungguh. Aku menyadari semua bermula dari diriku sendiri aku belum lulus-lulus, kenapa pula aku harus menyalahkan dosen, pekerjaan, waktu bahkan bus Damri non-AC.. THANKS USTADZ DAMRI lain kali aku akan mengisi kotak amal itu..agar kamu bisa terus memberi kesejukan pada orang-orang dalam bus kota yang panas dan pengap itu..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar