Senin, 30 April 2018

Ustadz Damri


Suatu hari aku pulang dari kampus dalam keadaan depresi. Apalagi yang membuat seorang mahasiswa depresi kalau bukan diputusin pacar atau ditinggal kawin, tidak punya duit buat bayar SPP, tidak lulus mata kuliah tertentu, paling parah tidak lulus-lulus dan selalu bermasalah dengan dosen. Hujan gerimis aku tembus. Biarlah. Mungkin dapat sedikit mendinginkan isi otakku yang kian mendidih. Handphone berdering tak kuacuhkan, ku sambar sekali mati. Aku tak ingin bicara dengan siapa pun. Apa lagi masalah pekerjaan. Hidupku penuh dilema akhir-akhir ini. Aku bekerja dan kuliah terbengkalai, aku kuliah dan SPP terbengkalai. Aku benci menebalkan muka untuk meminta bantuan pada paman dan bibiku, sudah cukup aku merepotkan mereka. Ibuku tercinta sudah tidak sanggup lagi, pabrik tempat dia sudah sepi orderan. Disinilah semua masalah bertemu, masalah yang kubuat sendiri, masalah keluarga dan masalah akademik. Aku menengadahkan wajah menantang hujan yang lebih besar menyirami tubuhku yang juga dalam suhu tinggi. Asap pun mengepul, bagai bara yang disiram air, terdengar bunyi "jessss...". segar.

Aku berdiri dipinggiran jalan menunggu bus yang akan mengantarkanku pulang. Aku berharap bus AC yang lewat dan disana tersisa satu tempat kosong dan disana sudah duduk seorang gadis cantik yang senyumnya menenangkan hati. Pastilah semua beban-beban itu akan terasa ringan. Dua , tiga, bus lewat, bukan AC, cuma damri ekonomi, aku tidak naik. Dan kemudian diikuti bus AC yang penuh, kemudian bus AC berikutnya penuh, dan penuh, kemudian penuh lagi dan seterusnya penuh. Sial. Sudah hilang kesabaranku menunggu. Sebuah damri lewat dengan penumpang berdesakan. Sudahlah, apa boleh buat naik saja, biarlah berdiri, biarlah pengap, biarlah bau keringat, biarlah.

Langit masih kelam, sudah hampir setengah jam aku berdiri dan akhirnya ada tempat yang kosong tepat di depanku. Tapi aku kulihat seorang perempuan paruh baya yang berdiri melihat tempat itu lalu kemudian menatapku. Aku tak akan tega melihat seorang wanita berdiri, sementara aku enak enak duduk. Apalagi mungkin dia seorang ibu. Biarlah aku berdiri sampai terminal. Tapi tak berapa lama aku dapat tempat duduk juga. Disamping jendela aku merenungi semua yang telah terjadi selama ini, asal muasalku hingga sampai duduk di dalam damri ini. Jika aku gagal dalam menyelsaikan masalah ini kubayangkan betapa kecewanya ibuku, adikku, nenekku, paman-bibiku, sahabat-sahabatku dan semua warga waras jaya desa mekar mulya. Mau jadi apa aku ini.

Tiba-tiba terdengar.. "Assalamualaikum warrahmatullahi wabarokatuh..."...
Seseorang dengan peci putih dan wajah bersahaja berdiri dihadapan penumpang bus damri layaknya pengamen. Orang tetap pada keadaanya, ada yang tetap tidur, ada yang tetap main HP ada juga yang tetap memandang keluar, sebagian besar tak acuh, hanya beberapa yang menjawab salam. Aku termasuk yang menjawab salam, tapi aku tak terlalu menganggapnya, mataku terus melihat-lihat keluar jendela sambil merasakan angin yang berhembus dari selah kaca mobil.

Lalu pria itu mulai menyapa penumpang yang ada, mulai dari supir-kernet, sampai sepasang kekasih yang sedang asyik mengobrol, tak lupa pula ia menyapa pria yang sedang melamun dengan mata tertuju keluar bus dan pikiran entah dimana. Pria itu pun sedikit terkejut dan mengerutkan keningnya. Menarik, lelaki ini kemudian membicarakan bahwa setiap orang hidup pasti akan diberikan masalah oleh tuhan kecuali satu jenis orang. Orang apakah itu? "ORANG GILA" katanya sambil tersenyum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar