Selasa, 01 Mei 2018

Bakti Kepada Ibu

Jangan tanya berapa usianya, karena sejak lahir, ia tidak pernah dibuatkan selembar surat bernama Akta Kelahiran oleh kedua orang tuanya di kampung. Ia lahir dan besar di Kabupaten Jeneponto Sulawesi Selatan. Allah mengaruniainya banyak anak. Karena himpitan ekonomi yang mendera ia dan mendiang suaminya memilih hijrah ke kota Makassar, mencoba peruntungan nasib. Guratan usia dan himpitan ekonomi terlihat jelas di wajahnya yang sepertinya tak pernah tersentuh bedak, apalagi lipstik dan wangi-wangian.
Sudah cukup lama ia hidup sendiri, tidak jauh dari perempatan jalan Urip Sumohardjo dan A.P. Pettarani, Makassar. Anak-anaknya, setelah berkeluarga, pergi meninggalkan. Tak ada lagi yang peduli. Dalam kesendiriannya, ia tak mau berpangku tangan apalagi bermalas-malasan. Haram baginya menengadahkan tangan, meminta belas kasihan orang lain, meski hal itu bisa saja dilakukannya. Ia memilih bertahan hidup dengan menjajakan jagung bakar bagi para pengguna jalan. Sebuah nampan lebar, sebotol minyak tanah dan tumpukan kayu bakar tua setia menemaninya. Ia berjualan tak jauh dari rumah reotnya, karena kedua kakinya yang lumpuh, tak mampu lagi menyanggah beban tubuhnya yang mulai renta.
Begitulah tulis bulletin bulanan Muzakki, menggambarkan profil seorang nenek bernama Satturia. Subhanallah, sudah sejak lama saya mengamati beliau tapi baru kemarin saya secara kebetulan mendapatkan profilnya di bulletin Muzakki tersebut. Hampir setiap hari sepulang kerja dari kantor saya lewat di depan jalan tempat dimana beliau menggelar dagangannya, namun saya masih belum bisa mewujudkan niat saya untuk sekedar membantu membeli jagung bakarnya. Ada dua hal yang bisa kita cermati dari kisah hidup nenek satturia ini. Pertama, kegigihannya dalam mencari rezeki dimana nenek satturia walaupun sudah dalam keadaan yang tua renta akan tetapi tetap berusaha mandiri tanpa mengharapkan belas kasihan orang lain. Padahal, di Makassar ini banyak saya jumpai para pengemis yang masih terlihat jauh lebih muda dan jauh lebih segar fisiknya daripada nenek satturia. Wallahu’alam, dengan kedok kaki cacat, borok dan mimik wajah yang mengiba, mereka mengais rezeki dari belas kasihan orang lain. Kedua, tentang durhakanya anak-anak dari nenek satturia. Seperti apa yang telah dituliskan bulletin muzakki tersebut, nenek satturia dalam masa senjanya hidup seorang diri, padahal beliau (seperti telah diberitakan) memiliki banyak anak. Betapa durhakanya anak-anak dari nenek satturia itu (semoga kita terlindung dari sifat-sifat tercela tersebut). Padahal beliau bisa menjadi kunci surga bagi anak-anaknya seperti telah diberitakan dalam sebuah hadits.
Saya tidak akan menyoroti masalah bagaimana sikap seorang muslim agar tidak pernah berputus asa dalam mencari rezeki dari Allah ta’ala. Akan tetapi kali ini saya akan menyoroti tentang kewajiban seorang anak untuk berbakti terhadap orang tua, terutama kepada ibunda.
Perintah Berbakti Kepada Orang Tua
Allah Azza wa Jalla telah memerintahkan kita untuk berbuat baik (berbakti) kepada kedua orang tua kita, Allah subhanahuwata’ala berfirman dalam Al-Qur’an,
وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Luqman: 14)
وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَاناً حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهاً وَوَضَعَتْهُ كُرْهاً وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْراً حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.(Al-Ahqaf: 15)
Kemudian pada beberapa ayat (An-Nisa’: 36), (Al-Isra: 23-24), dan (Al-Ankabut: 8 ) –silahkan dibuka kembali Al Qur’annya-.
Dalam Hadits disebutkan tentang keutamaan berbakti kepada orang tua,
‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu berkata, “Artinya : Aku bertanya kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ‘Amal apakah yang paling utama?’ Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Shalat pada waktunya (dalam riwayat lain disebutkan shalat di awal waktunya).’ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?’ Nabi menjawab: ‘Berbakti kepada kedua orang tua.’ Aku bertanya lagi: ‘Kemudian apa?’ Nabi menjawab, ‘Jihad di jalan Allah’ Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 527), Muslim dalam Kitabul Iman (no. 85), an-Nasa-i (I/292-293), at-Tirmidzi (no. 173), ad-Darimi (I/278), Ahmad (I/351, 409, 410, 439).
Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda, “Celaka, sekali lagi celaka, dan sekali lagi celaka orang yang mendapatkan kedua orang tuanya berusia lanjut, salah satunya atau keduanya, tetapi (dengan itu) dia tidak masuk syurga” [Hadits Riwayat Muslim 2551, Ahmad 2:254, 346]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar