Dari Abu
Hurairah radhiyallahu’anhu, ia berkata,” Datanglah seorang pria kepada
Rasulullah shallallahu’alaihi wasalam lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, siapakah
orang yang paling berhak atas pergaulanku yang terbaik?’ Beliau menjawab,
‘Ibumu’. Ia berkata ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu’. Ia
berkata, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu’. Ia berkata, ‘Kemudian
siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Bapakmu’.” (Muttafaqun’alaih)
Syaikh Muhammad
bin Sholih Al-Utsaimin berkata tentang hadits ini bahwa hadits tersebut
menjelaskan tentang orang yang paling berhak untuk menerima pergaulan yang
paling baik, maka Rasulullah shallallahu’alaihi wasalam menjelaskan bahwa orang
yang paling berhak atas hal itu adalah Ibu. Sekalipun pertanyaan itu diulang,
namun Beliau menjawab yang kedua kalinya, “Ibu”. Demikian hingga pertanyaan
yang sama dengan jawaban yang sama diulang hingga tiga kali. Kemudian setelah
itu adalah ayah. Karena seorang ibu telah mengalami kelelahan dan kesulitan
karena anaknya yang tidak pernah dialami oleh selain dirinya. Sebagaimana
firman Allah,
“……ibunya telah
mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah….”(Luqman: 14) dan
“……ibunya
mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah
(pula)….” (Al-Ahqaf: 15)
Pada malam harinya
sang ibu melindungi dan menenangkannya hingga tertidur. Jika muncul sesuatu
yang menyakitinya, sang ibu tidak tidur pada malam itu hingga anaknya tidur.
Sang ibu juga
menebus anaknya dengan jiwa dengan menghangatkannya jika musim dingin tiba dan
mendinginkannya jika musim panas tiba dan sebagainya. Ibu lebih besar
perhatiannya kepada anaknya daripada sang ayah. Oleh sebab itulah, hak ibu
menjadi berlipat tiga kali dibandingkan hak ayah.
Kemudian selain
daripada itu, seorang ibu adalah orang lemah sebagai wanita yang tidak mampu
mengambil haknya sendiri. Oleh sebab itu, Nabi shallallahu’alaihi wasalam
berwasiat berkenaan dengannya hingga tiga kali dan berwasiat berkenaan dengan
ayah hanya satu kali.
Dalam kitab
Fathul Baari Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani –ketika menyebutkan hadits
tersebut- menjelaskan: “Ibnu Bathal berkata: “Hadits tersebut memunjukkan bahwa
hendaknya seorang ibu memiliki porsi tiga kali lipat daripada porsi sang ayah
dalam hal mendapatkan bakti. Hal ini dikarenakan seorang ibu mengalami
kesulitan saat mengandung, melahirkan dan menyusui. Ketiga hal tersebut
merupakan bagian yang hanya dirasakan oleh ibu, sedangkan ayah hanya terlibat
bersamanya dalam hal mendidik dan membesarkan anak saja. Poin inilah yang yang
telah disinyalir dalam firman-Nya, “Dan Kami perintahkan kepada manusia
(berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam
keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun…” (Luqman:
14). Dalam ayat tersebut, Allah Azza wa Jalla menyamaratakan antara ayah dan
ibu dalam hal mendapatkan bakti dari anaknya, kemudian Allah menyebutkan secara
khusus ketiga tahap yang dialami oleh seorang ibu.”
Imam An-Nawawi
rahimahullah menjelaskan: “Durhaka kepada ibu merupakan perbuatan yang
diharamkan dan termasuk dosa besar berdasarkan ijma’ para ulama. Ada banyak
hadits shahih yang mengkategorikan perbuatan tersebut sebagai salah satu dosa
besar. Demikian pula, durhaka kepada bapak juga termasuk dosa besar. Hadits ini
lebih terfokus kepada ibu karena ketulusan kaum ibu lebih kuat daripada
ketulusan kaum ayah. Oleh karena itulah, ketika Rasullullah ditanya seseoarang:
‘Siapakah orang yang lebih berhak untuk mendapatkan baktiku?” Beliau
shallallahu’alaihi wasalam menjawab: “Ibumu” sebanyak tiga kali, dan pada
keempat kalinya Beliau menjawab: “Bapakmu”. Hal ini juga disebabkan karena
sebagian besar perbuatan durhaka dilakukan terhadap kaum ibu, yaitu bahwa
anak-anak lebih cenderung untuk melakukan hal itu kepada mereka.”
Imam Adz-Dzahabi
dalam kitabnya Al-Kabair berkata:
“Ibumu telah
mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan seolah-olah sembilan
tahun. Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan
nyawanya. Dan dia telah menyusuimu dari teteknya, dan ia hilangkan rasa kantuknya
karena menjagamu. Dan dia cuci kotoranmu dengan tangan kanannya, dia utamakan
dirimu atas dirinya serta atas makanannya. Dia jadikan pangkuannya sebagai
ayunan bagimu. Dia telah memberikannmu semua kebaikan dan apabila kamu sakit
atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan panjang sekali
kesedihannya dan dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu dan
seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka dia akan meminta supaya
kamu hidup dengan suara yang paling keras.
Sekarang mari
kita tengok bagaimana sosok para salaf tentang bakti mereka kepada ibundanya
untuk kita renungi bersama dan mudah-mudahan bisa kita jadikan sebagai contoh
yang baik untuk kita teladani.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar