Selasa, 01 Mei 2018

Mendahulukan Bakti Kepada Ibu


Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, ia berkata,” Datanglah seorang pria kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wasalam lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak atas pergaulanku yang terbaik?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu’. Ia berkata ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu’. Ia berkata, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu’. Ia berkata, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Bapakmu’.” (Muttafaqun’alaih)
Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin berkata tentang hadits ini bahwa hadits tersebut menjelaskan tentang orang yang paling berhak untuk menerima pergaulan yang paling baik, maka Rasulullah shallallahu’alaihi wasalam menjelaskan bahwa orang yang paling berhak atas hal itu adalah Ibu. Sekalipun pertanyaan itu diulang, namun Beliau menjawab yang kedua kalinya, “Ibu”. Demikian hingga pertanyaan yang sama dengan jawaban yang sama diulang hingga tiga kali. Kemudian setelah itu adalah ayah. Karena seorang ibu telah mengalami kelelahan dan kesulitan karena anaknya yang tidak pernah dialami oleh selain dirinya. Sebagaimana firman Allah,
“……ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah….”(Luqman: 14) dan
“……ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula)….” (Al-Ahqaf: 15)
Pada malam harinya sang ibu melindungi dan menenangkannya hingga tertidur. Jika muncul sesuatu yang menyakitinya, sang ibu tidak tidur pada malam itu hingga anaknya tidur.
Sang ibu juga menebus anaknya dengan jiwa dengan menghangatkannya jika musim dingin tiba dan mendinginkannya jika musim panas tiba dan sebagainya. Ibu lebih besar perhatiannya kepada anaknya daripada sang ayah. Oleh sebab itulah, hak ibu menjadi berlipat tiga kali dibandingkan hak ayah.
Kemudian selain daripada itu, seorang ibu adalah orang lemah sebagai wanita yang tidak mampu mengambil haknya sendiri. Oleh sebab itu, Nabi shallallahu’alaihi wasalam berwasiat berkenaan dengannya hingga tiga kali dan berwasiat berkenaan dengan ayah hanya satu kali.
Dalam kitab Fathul Baari Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani –ketika menyebutkan hadits tersebut- menjelaskan: “Ibnu Bathal berkata: “Hadits tersebut memunjukkan bahwa hendaknya seorang ibu memiliki porsi tiga kali lipat daripada porsi sang ayah dalam hal mendapatkan bakti. Hal ini dikarenakan seorang ibu mengalami kesulitan saat mengandung, melahirkan dan menyusui. Ketiga hal tersebut merupakan bagian yang hanya dirasakan oleh ibu, sedangkan ayah hanya terlibat bersamanya dalam hal mendidik dan membesarkan anak saja. Poin inilah yang yang telah disinyalir dalam firman-Nya, “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun…” (Luqman: 14). Dalam ayat tersebut, Allah Azza wa Jalla menyamaratakan antara ayah dan ibu dalam hal mendapatkan bakti dari anaknya, kemudian Allah menyebutkan secara khusus ketiga tahap yang dialami oleh seorang ibu.”
Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan: “Durhaka kepada ibu merupakan perbuatan yang diharamkan dan termasuk dosa besar berdasarkan ijma’ para ulama. Ada banyak hadits shahih yang mengkategorikan perbuatan tersebut sebagai salah satu dosa besar. Demikian pula, durhaka kepada bapak juga termasuk dosa besar. Hadits ini lebih terfokus kepada ibu karena ketulusan kaum ibu lebih kuat daripada ketulusan kaum ayah. Oleh karena itulah, ketika Rasullullah ditanya seseoarang: ‘Siapakah orang yang lebih berhak untuk mendapatkan baktiku?” Beliau shallallahu’alaihi wasalam menjawab: “Ibumu” sebanyak tiga kali, dan pada keempat kalinya Beliau menjawab: “Bapakmu”. Hal ini juga disebabkan karena sebagian besar perbuatan durhaka dilakukan terhadap kaum ibu, yaitu bahwa anak-anak lebih cenderung untuk melakukan hal itu kepada mereka.”
Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya Al-Kabair berkata:
“Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan seolah-olah sembilan tahun. Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya. Dan dia telah menyusuimu dari teteknya, dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu. Dan dia cuci kotoranmu dengan tangan kanannya, dia utamakan dirimu atas dirinya serta atas makanannya. Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu. Dia telah memberikannmu semua kebaikan dan apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan panjang sekali kesedihannya dan dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu dan seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka dia akan meminta supaya kamu hidup dengan suara yang paling keras.
Sekarang mari kita tengok bagaimana sosok para salaf tentang bakti mereka kepada ibundanya untuk kita renungi bersama dan mudah-mudahan bisa kita jadikan sebagai contoh yang baik untuk kita teladani.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar